LAI MEKEN PEMIMPIN PERDANA TUAN TANA ASAL TANA DI MEKEN DETUN

Oleh LONGGINUS DIOGO

Longginus Diogo.Kisah Lai Meken Pemimpin Perdana Tuan Tana Asal Tana di Meken Detun ini terdapat dalam Naruk Duan Moan Latung Lawang Lepo Meken, didesa Meken Detun Kecamatan KangaE, Kabupaten Sikka. Dalam Latung Lawangnya disebut LAI MEKEN MOAN PUAN TANA PUAN TAWA TANA, selengkapnya dituturkan sebagai berikut :

Gu Wua Men Lai Lamen -Dan kulahirkan seorang putra
LAI MEKEN MOAN PUAN -LAI MEKEN PEMIMPIN PERDANA
TANA PUAN TAWA TANA -TUAN TANA ASAL TANA
Lai neper puan -Putra yang terampil
Nain due nein deri -Pewaris semua peninggalan
Doe nian ngen tana dadin -Penguasa wilayah dan negeri
Ei Mein Erin Meluk -Di Mein Erin yang elok

DUA KROWE MANUSIA ASAL TANAH DI MEKEN DETUN WOLOLARU

Kisah tradisi lisan lepo meken, desa Meken Detun, kecamatan Kangae, Kab. Sikka, bertutur tentang adanya DUA KROWE DUA TAWA TANA (dua krowe perempuan asal tanah ) di kawasan Meken Detun-Nuhan Ular Tana Loran. Dua krowe inilah menjadi leluhur pertama dari dua etnis penduduk asli di Nuhan Ular Tana Loran. Yaitu Etnis Krowe dan Etnis Krowin.

DUA UKA MOAN PALE MANUSIA PERTAMA DI PULAU ULAR NAGA SAWARIA

Masyarakat Meken Detu Wololaru Mei Erin Blata Tatin mewarisi kisah tradisi lisan atau Naruk Duan Moan Latung Lawang, tentang kejadian bumi,manusia,pemerintah asli tradisional,dan pemerintah kerajaan tradisional. Kisah ini diwariskan secara turun – temurun dalam garis keturunan Lepo Meken.

Kisah tentang Dua Uka Moan Pale sebagai manusia Pertama di Pulau Ular Sawaria akan diulas dalam tulisan ini

PULAU ULAR NAGA SAWARIA

[caption id="attachment_990" align="alignleft" width="117"] Longginus Diogo[/caption]

Pulau Ular Naga Sawaria adalah Sebuah nama pulau yang asing bagi masyarakat Indonesia, karma nama ini tidak ada dalam gugusan kepulauan Indonesia. Namun masyarakat Etnis Krowe memiliki kisah tradisi lisan (oraltradition) atau dalam bahasa Krowe disebut Duan Moan Latung Lawang yang mengisahkan kejadian Pulau Ular Naga Sawaria itu. Naruk Duan Moan Latung Lawang artinya kisah tentang peristiwa sejarah dan pemimpin masa lampau yang dituturkan secara puitis. Duan Moan Latung Lawang ini merupakan warisan budaya, yang diteruskan secara turun-temurun dalam garis keturunan suatu suku / marga. Antara lain warisan budaya kisah tradisi lisan dari Lepo Meken Bemu Aja di Meken Detun Wololaru Poma Pihak Watudaring Mei Erin Blata Tatin, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka yang diterjemahkan sebagai berikut :

[caption id="attachment_993" align="alignright" width="300"] peta Kab. Sikka[/caption]

Pada awal mula di zaman purbakala
Ketika bumi ini belum tercipta
Alam jagat raya ini hanya diliputi air belaka
Dan berawal dari batu wadas di dasar air
Di kedalaman perut bumi yang kokoh bagai baja
Bertumbuh kembanglah terumbu karang
Dari wadas di kedalaman dasar air itu.
Namun masih terlihat ombang ambing
Tampak masih timbul dan tenggelam
Bagaikan belahan tempurung yang hanyut
Tampak melintang bagai bangkai seekor ular yang mati
Bagaikan seekor Ular Besar –Ular Naga Sawaria
Airpun mengalir memisahkan diri
Tampak gunung batu karang
Namun masih terombang-ambing
Timbul lalu tenggelam lagi
Dan datanglah Ayahhanda Burung Garuda
Membawa tanah dari matahari
Dikibas-kibasnya ke gunung karang Ilin Goran
Lalu datang pula Ibunda Rajawali
Membawa batu-batu dari bulan
Batu-batu itu ditumpuk susun pada tanah
Dan bumi pun matang bagai buah pisang tua
Dan tanah pun mengeras bagai batang “ OA “

Terjadilah 7 buah sungai, yang diapit delapam bukit
Dan terjadilah PULAU ULAR NAGA RAKSASA.
Demikian sebuah kisah legendaris tentang kejadian Pulau Ular Naga Sawaria, sebuah pulau yang bentuknya seperti seekor Ular Naga Raksasa. Pulau ini berasal dari terumbu karang yang tumbuh dari wadas yang berada di bawah kedalaman pusat perut bumi. Dan di kedalaman pusat perut bumi itu, para leluhur meyakini adanya INA NIAN TANA WAWA (IBU BUMI) sebagai SANG PENCIPTA. Pulau karang itu disirami dengan tanah yang berasal dari matahari dan ditumpuk susun dengan batu yang berasal dari bulan. Para Leluhur Etnis Krowe juga meyakini adanya AMA LERO WULAN RETA (BAPAK LANGIT), sebagai SANG PENGUASA DAN BUMI. Kisah legendaris ini makna simbolis, bahwa alam jagat raya ini adalah Cipataan Tuhan Yang Maha Esa dan dipelihara oleh Allah Yang Maha Kuasa.