Perencanaan pembangunan nasional membutuhkan data dasar kependudukan dan perumahan yang lengkap dan terkini, sensus penduduk adalah salah satu sumber utama data dasar yang dimaksud. Sensus penduduk atau cacah jiwa pada dasarnya merupakan kegiatan penghitungan jumlah penduduk di seluruh atau sebagian teritorial suatu Negara dan mengumpulkan karakteristik pokok semua penduduk, rumah tangga, dan bangunan tempat tinggal.
blog ini berisi tulisan dan informasi tentang kejadian di kab. Sikka. selain itu blog ini juga berisi tulisan beberapa penulis lokal yang pernah dimuat di beberapa blog saya sebelumnya. semoga saja catatan informasi yang masih tersimpan ini bisa menjadi referensi bagi anda. Epan Gawang
SENSUS PENDUDUK 2010
Perencanaan pembangunan nasional membutuhkan data dasar kependudukan dan perumahan yang lengkap dan terkini, sensus penduduk adalah salah satu sumber utama data dasar yang dimaksud. Sensus penduduk atau cacah jiwa pada dasarnya merupakan kegiatan penghitungan jumlah penduduk di seluruh atau sebagian teritorial suatu Negara dan mengumpulkan karakteristik pokok semua penduduk, rumah tangga, dan bangunan tempat tinggal.
Hutan Ilinmedo Egon Jadi Hutan Cadangan Masyarakat
Maumere,Gunung Egon selama ini di kenal sebagai Gunung Berapi Aktif yang cendrung menyimpan bahaya bagi masyarakat disekitar kawasan Egon bahkan sampai ke beberapa wilayah disekitar lokasi. Bahaya letusan dan semburan asap panas sering diwaspadai, bahkan beberapa waktu lalu status awas sempat diberikan oleh pemerintah dari posko pemantau.
5 warga Iran di periksa Imigrasi Maumere
Kantor Imigrasi Maumere saat ini sedang melakukan pemeriksaan terkait alasan tinggal di Indonesia di luar izinan yang diberikan, tujuan keberangkatan mereka, dan hal-hal teknis terkait keberadaan mereka di Indonesia. Demikian di ungkapkan Kepala Kantor Imigrasi Maumere Purwadi yang didampingi Kepala Seksi (Kasi) Lalulintas dan Status Keimigrasian Dios Dani kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (12/4).
Mutasi Eslon II dan III Lingkup Pemda Kabupaten Sikka
Bandara Waioti berubah menjadi Bandara Frans Seda
Di ruang Kulababong DPRD Sikka dalam rapat Paripurna tentang Penetapan pergantian nama Bandara Waioti dan Pemberian nama Pelabuhan Laut Maumere. DPRD Menyetujui pergantian nama bandara menjadi Bandara Frans Seda dan Pelabuhan Laut Sadang Bui menjadi Pelabuhan Lauren Say pada 25 Maret 2010
Dari laporan kunjungan kerja tim DPRD Sikka bahwa selama proses sosialisasi ke masyarakat masih terdapat Pro dan Kontra atas usulan pergantian nama tersebut.
Longginus Diogo- seorang guru dan pemerhati sejarah dari Kewapante menyatakan dukungannya terhadap pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda sebagaimana yang disetujui oleh semua Fraksi di DPRD Sikka pada 25 Maret 2010 lalu. Menurut Diogo, Kloang Waioti yang kini menjadi kelurahan Waioti tetap menyandang nama Waioti. Dengan demikian, akunya, nama bandara yang diganti itu tetap disebutkan sebagai Bandara Frans Seda yang berada dalam wilayah Kelurahan Waioti atau kloang Waioti.
“Dalam konteks kebijakan pergantian nama bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda ini, sama sekali tidak memberangus keberadaan Waioti sebagai sebuah wilayah kesatuan adat warisan leluhur para warga Desa Watugong,” kata Diogo dalan siaran pers.
Diogo menyampaikan hal ini menyusul adanya pendapat dan aspirasi wargha Watugong sebelumnya yang menolak rencana pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda. Aspirasi penolakan ini disampaikan warga Watugong kepada anggota DPRD Sikka yang melakukan kunjungan kerja ke Desa itu pada bulan Maret.
“Jika kebijakan Pemkab Sikka hanya menggantikan nama Bandaranya, janganlah kita melakukan sumpah adat karena sumpah adat itu akan kembali kepada kita sendiri atau dalam bahasa adat disebut Padong Puat. Kita harus berhati-hati dan jeli melihat inti permasalahan dalam melakukan upacara sumpah adat. Karena intinya adalah pergantian nama Bandara, bukan bukan pergantian nama wilayah kesatuan adat. Nama Bandara Waioti baru muncul seputar tahun 1944, sedangkan nama Waioti sebagai wilayah adat sudah lahir sejak zaman asli tradisional,” kata Diogo.
Ditegaskannya, pergantian nama bandara,pelabuhan, dan jalan bukanlah hal yang baru dan tabu. Diakuinya, pada awalnya nama bandara didasari pada nama tempat bandara itu berada. Misalnya, Bandara Penfui. Dalam perjalanan sejarah nama bandara Penfui diganti dengan Bandara El Tari. Demikian pun Bandara Cengkareng diganti menjadi Bandara Soekarno-Hatta.
“Nama Penfui dan Cengkareng tetap eksis sebagai nama wilayah. Demikian pun keberadaan wilayah Waioti sebagai nama Kloang atau pun nama kelurahan, tidak akan terberangus oleh pergantian nama ini,” katanya.(top)