Pengantar Kamus dan Ensiklopedi Bahasa Sikka
Kebudayaan manusia itu dibentuk antara lain melalui hasil proses belajar atau “learned”. Dikatakan demikian karena manusia itu pada dasarnya memiliki konsep-konsep abstrak yang dinyatakan dalam bentuk tanda dan simbol, dan salah satu simbol yang paling nyata dan praktis adalah bahasa, lewat mana manusia itu dapat belajar dan berkomunikasi. Kalau manusia itu dapat berbahasa maka hal itu berarti bahwa hanya manusia yang dapat menggunakan tanda dan simbol, dan oleh karena itu hanya manusia yang berbudaya.
Perspektif bahasa sebagai gejala pokok budaya tersebut telah menjadi model dan acuan utama bagi semua ekspresi budaya lainnya. Maka sistem bahasa hingga saat ini masih dipandang sebagai model yang paling istimewa untuk menelusuri “kodrat” tak sadar akal budi manusia, sehingga sistem linguistik dilihat sebagai prototipe pelbagai pranata sosio-budaya lainnya. Dalam konteks semacam ini sungguh tepat bila dikatakan bahwa kebudayaan manusia nerupakan perwakilan lahiriah atau surface representation dari struktur pemikiran manusia, meminjam istilah Claude Levi-Strauss, khususnya pada masyarakat asli atau indigenous yang juga memiliki kemampuan kognitif untuk memandang hal-hal yang ada di dunia sekitarnya dan untuk mengkonstruksikan suatu perangkat relasi atau sistem atau sistem relasi dalam kenyataan. Kebutuhan akan aktivitas intelektual semacam inilah yang menyebabkan mereka antara lain mengklasifikasikan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya dengan cara-cara logika elementer akal budinya menjadi kategori-kategori elementer ( sistem kekerabatan, oposisi-oposisi biner dan relatif, sistem dualisme konsentrikal, pranata totemisme ). Hal ini menunjukan bahwa pada setiap kebudayaan terdapat semacam konstruksi ideologis beserta semua batasan yang mempertahankan konstruksi tersebut dalam suatu keadaan isomorfisme yang hanya memungkinkan jenis transformasi tertentu.
Ensiklopedi Mini Bahasa dan Budaya Sikka-Krowe ini boleh dikatakan merupakan hasil observasi etnologis yang paling spesifik karena menyentuh ;angsung cara berfungsinya akal budi (sistem klasifikasi) masyarakat adat Sikka-Krowe tempo doeloe, di kabupaten Sikka – Flores – Nusa Tenggara Timur, dalam menyusun simbol-simbol dan menjelaskan bagaimana hubungan dan oposisi simbol-simbol tersebut terjadi dalam lingkungan hidup manusia. Hadirnya Ensiklopedi karya P. Sareng Orinbao SVD ini membenarkan gagasan Ferdinand de Saussure tentang bahasa sebagai keseluruhan sistem tanda (“la langue”) dan perwujudan individual dari sistem tanda (“la parole”). Sistem-sistem tanda linguistik itu biasanya bersifat arbitrer (sewenang-wenang) sehingga kita tidak akan bisa menemukan label-label tetap yang melekat secara intrinsik pada hal-hal objektif kecuali hanya atas dasar persetujuan konvensional. Mengapa ? Setiap tanda linguistik ditentukan dalam dan oleh relasinya dengan tanda-tanda lain dari sistem itu, sehingga arti spesifik dari tanda itu dihasilkan oleh pelbagia kombinasi oposisional berdasarkan prinsip “perbedaan” fonologis dan semantik ( Cfr. F. De Saussure , Prngantar Linguistik Umum, Yogyakarta: Gajah Mada Univ. Press, 1988 ). Masyarakat adat Sikka-Krowe, dengan cara-cara logika elementernya, telah menciptakan sistem-sistem tanda linguistik yang hanya memperoleh arti melalui dua prinsip relasi (asosiasi), yaitu asosiasi sintagmatis dan asosiasi paradigmatis, yang pada gilirannya menghasilkan beberapa hukum yang umum dan universal dalam berfungsinya bahasa Sikka-Krowe hingga dewasa ini.
Sebagai seorang Sejarahwan lintas budaya dan Imam senior Serikat Sabda Allah, P. Sareng Orinbao yang memiliki nama populer P. Piet Petu SVD ini telah berhasil secara spektakuler mendobrak dominasi para peneliti dari Eropa Barat yang selama ini menguasai dunia ilmu pengetahuan.. Di tengah maraknya paradigma-teoritis ilmu-ilmu pengetahuan yang bersifat fragmentaris, Ensiklopedi Mini Bahasa dan Budaya Sikka-Krowe ini merupakan bukti kebangkitan insan Nusa Flores yang boleh mematahkan argumentasi kelompok penganut “oriental despotism” yang selalu mengangggap orang-orang dari belahan dunia Timur sebagai yang primitif, emosional, tidak rasional, subjektif dan inferior. Lewat beberapa karya ilmiahnya, termasuk Ensiklopedi Mini ini, P. Sareng Orinbao SVD telah membuka mata banyak ilmuwan sosial akan status epistemologis ilmu antropologi budaya (linguistik) yang merupakan perwujudan serentak antara proses “identifikasi” dan proses “distansi”, sehingga para ilmuwan tersebut dapat membentuk sikap objektif terhadap setiap kebudayaan. Refleksi atas status epistemologis ini rupanya telah mendorong beliau untuk bangkit membela keanekaragaman budaya asli yang dianggap arkhais dan inferior sehingga membawa serta suatu “revolusi moral humanistis” yang mengandung pesan-pesan pengakuan terhadap kebudayaan asli di Nusa Flores ini. Maka atas jasa penggunaan buku NUSA NIPA karya perdananya, budayawan yang keras-kepala ini dinobatkan oleh Universitas Sidney di Australia pada tahun 1993 sebagai salah satu pendekar linguistik aliran Fungsionalisme-Struktural dari kawasan Asia-Pasifik.
P. Sareng Orinbao SVD boleh termasuk dalam barisan para peneliti dan etnolog Societas Verbi Divini (SVD) didikan Wilhelm Schmidt SVD (pendiri aliran-teoritis Kulturkreizlehre) yang dengan penuh minat, lewat karya-karya mereka, mengeritik paham dan sikap antroposentrisme yang angkuh dari Barat (Eropa) dan ”humansme klasik Barat” yang cenderung menciptakan pemisahan mutlak (dualisme) antara manusia dan alam raya dan karena itu juga antara peeradaban Barat dan budaya-budaya lain yang dianggap arkhais dan inferior. Akhirnya Ensiklopedi Mini ini boleh menjadi salah satu sumbangan kontemporer dalam upaya-upaya mengatasi masalah benturan peradaban (the clash of civilization) sebagaimana disinyalir oleh Samuel P. Huntington, agar generasi penerus adat istiadat Sikka-Krowe boleh bertumbuhkembang menjadi manusia yang bangga akan kebudayaannya sendiri (manusia berbudaya) di tengah ketidakjelasan era globalisasi dewasa ini.
P. DRS. ANSEL DOREDAE, SVD, MA-Dosen Antropologi STFK Ledalero Maumere- Flores, NTT
ingin bljr bhs flores. mhn dpandu. memperdalam budaya nusntr
BalasHapus