MENGENANG SEABAD PASAR "GO LIE TING" (Geliting)

nianalok

Maumere_ Sabtu, 27 Februari 2010, menelusuri catatan sejarah perihal asal muasal pasar Go Lie Ting tidaklah mudah, apalagi perjalanan sejarah itu sudah berlangsung seabad lalu. Sebagai orang muda yang mau belajar dari catatan sejarah, kami mencoba untuk menemui tokoh lokal di Kecamatan Kewapante.

Awalnya kami bertemu Kepala Desa Namangkewa, Gabriel Mbulu. Atas saran Bapa’ Desa Gabriel Mbulu kami diminta untuk menemui salah seorang tokoh masyarakat desa setempat, Longginus Diogo.

Menurut Longginus Diogo yang lahir di Lihantahon, Desa Kokowahor 10 Juli 1953, bahwa ditahun 1900 an sejumlah kapal dari Wajo (Sulawesi Selatan), menyinggahi pesisir laut utara Flores tepatnya di Wilayah Kerajaan Kangae, rombongan ini lantas membuka sebuah perkampungan dan oleh masyarakat setempat di sebut Natar Wajo (Kampung Wajo) yang kemudian di kenal dengan Bajo (dari kata Wajo).

Tak berselang lama waktunya, datang pula sejumlah nelayan asal Tidore dari Maluku (yang dikenal masyarakat lokal dengan Ata* Tidung) dan hidup membaur di Natar Wajo, dan sebagian besar mendiami kepulauan yang ada di Teluk Maumere, Laut Flores.(*Bhs.Ind:orang)

Kehadiran masyarakat Wajo dan Tidore ini ternyata membawa perubahan, sebuah transaksi barter (saling bertukar barang) pun dimulai antara ikan yang disiapkan orang Wajo dan Tidore dengan kebutuhan pangan (jagung, ubi, beras dan kacang – kacangan) dari masyarakat lokal.

Kala itu Kerajaan KangaE dipimpin Raja ke 39 dalam Silsilah Kerjaan KangaE, yakni Raja Nai Juje. Oleh kelompok masyarakat, Ata Wajo, Tidore, Sina (China) dan masyarakat lokal dikenal ada dua hari pasar. Pertama pada hari Kamis, Aban Tidung (dimana masyarakat menunggu orang Tidore untuk berbarter hasil laut dengan rempah – rempah dan pangan lokal). Kedua pasar di hari Jum ad adalah Regang Bajo, dimana terjadi transaksi barter antara masyarakat dari Natar Wajo dengan masyarakat lokal.

Ketenaran Regang Wajo saat itu tersiar hingga ke telinga para pedagang dari China, para saudagar China pun mulai berdatangan dan menyinggai Regang Wajo.

Tahun 1905, melihat makin ramenya interaksi barter di hari Kamis dan Jum ad. Maka Raja Nai Juje membangun sejumlah toko untuk disewakan kepada para saudagar dari China, Wajo dan Tidore. Salah satu orang China yang terkenal saat itu adalah Go Lie Ting.

Go Lie Ting adalah seorang tukang emas dan menyewa sebuah bangunan rumah panggung, sehingga oleh masyarakat lokal Go Lie Ting dikenal dengan Sina Logu Le’wu. Keturunan Go Lie Ting antara lain Baba Tie dan Go Titi.

Karena situasi politik kala itu, orang Wajo (Ata Bajo) dan Tidore (Tidung) berpindah ke Wuring. Maka oleh masyarakat setempat, Regang Bajo berubah nama menjadi regang Go Lie Ting karena ketenaran dari seorang Sina Logu Lewu, dan lama kelamaan sebutan Go Lie Ting dipermudah penyebutannya dengan Geliting. Hingga sekarang pasar yang semula dikenal dengan Regang Bajo populer sebagai Pasar Geliting.

Guru Longginus, (Putra Moan Jaro Diogo dan Lusia Dua Mitan Nago) berkisah bahwa orang asal Wajo (Ata Bajo) dan orang Tidore (Ata Tidung) oleh masyarakat lokal juga dikenal dengan sebutan sebagai Ata Goan. Alkisah, kira – kira tahun 1600 datanglah laskar perang dari Goa (Sulawesi Selatan) menyerang Pulau Flores termasuk Maumere. Karena para laskar asal Goa ini memeluk agama Islam, maka oleh sebagian masyarakat kita hingga saat ini beragama Islam disebut dengan Ata Goan.

Pasar Geliting Seabad Kemudian

Pasar Gelting kini sangat ramai dipadati para pedagang dan pembeli. Tak hanya itu, Geliting yang semula pasar tradisional kini juga berfungsi sebagai terminal. kepadat dan menyebabkan kemacetan panjang terutama pagi hari dan setiap hari Kamis dan Jumad. Tak sedikit para pedagang dan pembeli yang menjadi korban kecelakaan akibat ramainya Regang Bajo itu.

Mengutip Artikel E. P. da Gomez berjudul ” Tahun 2010 Pasar Geliting Mencapai Usia 100 Tahun “, yang juga termuat pada media elektronik, www.nianalok.wordpress.com... Kini lokasi pasar Geliting sudah tidak tampan lagi, sesak dan jorok. Letaknya pada jalur ruas jalan Negara, Maumere-Larantuka, sehingga sangat mengganggu kelancaran arus lalulintas akiba membludaknya jumlah pengguna jasa pasar. Perlu ada kiat lain untuk merombak kondisi dan suasana ini.

Sejak tahun 2006, Pemerintah dan DPRD Kabupaten Sikka melihat kondisi ini membuat rencana pemindahan lokasi Pasar Geliting ke kawasan utara Kloanglagot. Tahap demi tahap pemerintah membebaskan bidang tanah seluas 6 Ha yang direncanakan untuk areal bangunan pasar sekaligus sebuah terminal angkutan antar desa dan menuju kota Maumere. Seiring dengan itu, terminal Lokaria akan ditutup, sehingga pengguna jasa angkutan orang dari arah timur kabupaten ke kota Maumere hanya membayar satu trip, bukan dua trip atau lebih seperti yang berlaku sekarang. Kapan rencana ini akan terwujud? Wait and see…..

Sementara itu, Dalam lampiran Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sikka, Nomor 10 / DPRD / 2010 Tanggal 02 Maret 2010, Tentang Peraturan Daerah Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Sikka Tahun Anggaran 2010, halaman 11,yang ditandatangani Selasa (02/01/2010) malam di Lepo Kula Babong, juga diusul sarankan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka supaya segera menyelesaikan bangunan Pasar Geliting yang baru (di Wairkoja) dan segera difungsikan. Sementara terhadap Pasar Geliting yang lama segera direncanakan pemanfaatnnya. (johnoriwis)

8 komentar:

  1. makasih Om. da pasangin link blog ku ..tetap up to date terus :) slam hangat maju dan terus berjuang..

    BalasHapus
  2. hmmm, akhirx ada yg mengangkat cerita kacaux arus lalau lintas di daerah pasar Geliting. dan ternyata tiap temppat punya cerita dan sejarah tersendiri, semoga saja rencana yg bagus yg sudah di buat bisa segera direalisir dan sbg masy kita patut mendukung upaya Pemkab krn smua tentux untk kebaikan dn kesejahteraan kita masyx... dan kaum muda, jangan terlalu memandang jauh ttg sejarah negara atau kota lain, di sini di Kota kita pun mash banyak kisah yg harus digali...sukses selalu Maumere Maniseeeee

    BalasHapus
  3. Baru tau saya klo pasar Geliting berasal dari nama orang Cina...
    Thanks buat Infonya..
    Bravo n Jaya terus...

    BalasHapus
  4. saya senang dengan adanya sejarah maumere yg di tuangkan semua dalam situs ini , semoga slalu mengajarkan pada kaum maumere untuk mencintai sejarah kita

    BalasHapus
  5. Ayo maumere maju terus...............

    BalasHapus
  6. baru tau aku ternyata ada orang tidore juga ya di flores...salm knl y buat yg punya blog

    BalasHapus
  7. yah itu kampung saya..wah ternyata sejarahnya demikian yah

    BalasHapus