PASAR, dalam bahasa Sikka disebut Regang. Arti harafiahnya bertemu. Istilah kata ini bermakna pertemuan antara penjual dan pembali. Lebih dalam dari itu ada sebuah ungkapan tentang bentuk interaksi social dalam kehidupan bermasyarakat untuk merekatkan kebersamaan, persaudaraan, dan rasa kekeluargaan. Itulah makna dan manfaat pasar tempo doeloe yang masih dirasakan hingga sekarang.
Pasar di kabupaten Sikka sebagai tempat tukar menukar barang antara penjual dan pembeli sudah berlangsung lama, sejak zaman nenek moyang dari dahulu kala.menurut catatan Moang D.D. Kondi Pareira (1886-1962) dalam manuskripnya “Hikayat Kerajaan Sikka” (tidak bertahun), Raja Sikka Don Thomas (1895-1954) membuka pasar Nangahale (1925), Nita (1933), Lekebai (1936), Kaliwajo dan Talibura (1940), Nangablo (1945), Bola dan Paga (1950). Sebelumnya sudah ada pasar di Lela (1885), Maumere (1900) dan Geliting (1910). Diadakannya pasar-pasar itu dengan maksud agar hasil komoditas rakyat dapat diperjual-belikan dengan mudah. Hasil bumi rakyat ketika itu adalah kopra, asam, kemiri, kacang ijo dan kacang tanah, selain jagung, ubi-ubian, dedaunan sebagai sayur local, garam, ikan asin dan lain-lain.
Catatan hikayat di atas menunjuk bahwa pada tahun 2010 ini Pasar Geliting telah mencapai usia 100 tahun (tanggal yang tepat tentang kehadiran pasar Geliting, tidak diketahui). Kata sahibul hikayat, Pasar Geliting yang lebih dikenal dalam bahasa setempat sebagai Regang Bajo, diawali dengan aktifitas dagang barter. Tukar menukar barang antara masyarakat tani di pedalaman (kini dikenal sebagai wilayah kecamatan Kewapante, KangaE dan Hewokloang) yang membawa hasil kebun berupa jagung, ubi-ubian, pisang, kacang-kacangan dan lain-lain, untuk ditukar dengan ikan asin dan garam yang dibawa masyarakat Tidung, kaum nelayan yang menghuni pulau-pulau di depan kota Maumere dan Geliting (pulau Besar, Pemana, Permaan, Sukun, Damhila, Kojadoi, Pangabatang, dan pulau Babi). Dari sebab itu sejak hari Kamis sore dan sepanjang hari Jumat dikenal sebagai Regang Tidung. Semenjak itulah bertumbuh dan berkembang suburlah Pasar Geliting yang ramai pada setiap hari Jumat, dan kini pada hari-hari lain juga semakin ramai.
Dari tahun ke tahun Pemerintah Kabupaten Sikka memperhatikan peningkatan fasilitas Pasar Gelitinguntuk pelayanan public. Asset pemrintah di pasar ini berupa tanah seluas 3.150 meter persegi dengan bangunan seluas 620 meter persegi, ditaksir bernilai Rp 1.295.940.000 (taksiran harga pada tahun 2006). Di sini terdapat 14 kios, 4 los dan 1 pelataran. Dalam perkembangannya kini terdapat tambahan 70 kios. Pasar Geliting memasok retribusi pasar untuk PAD Kabupaten Sikka setiap tahun sekitar lebih dari Rp 15 juta.
Kini lokasi pasar Geliting sudah tidak tampan lagi, sesak dan jorok. Letaknya pada jalur ruas jalan Negara, Maumere-Larantuka, sehingga sangat mengganggu kelancaran arus lalulintas karena membludaknya jumlah pengguna jasa pasar. Perlu ada kiat lain untuk merombak kondisi dan suasana yang jenuh itu.
Sejak tahun 2006, Pemerintah dan DPRD Kabupaten Sikka melihat kondisi yang tidak memberikan ruang kelegaan dan keleluasaan ini dengan rencana memindahkan lokasi Pasar Geliting ke kawasan utara Kloanglagot. Tahap demi tahap pemerintah membebaskan bidang tanah seluas 6 Ha yang direncanakan untuk areal bangunan pasar sekaligus sebuah terminal angkutan antar desa dan menuju kota Maumere. Seiring dengan itu, terminal Lokaria akan ditutup, sehingga pengguna jasa angkutan orang dari arah timur kabupaten ke kota Maumere hanya membayar satu trip, bukan dua trip atau lebih seperti yang berlaku sekarang. Kapan rencana ini akan terwujud? Wait and see
Proyek Pasar Kewapante, begitu nomenklatur dalam APBD. Saya lebih senang disebut pasar Geliting, karena bermakna sejarah yang panjang. “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”, kata Bung Karno. Sejarah tidak lain adalah sumber mata air pengetahuan untuk membuat kita menjadi lebih arif dalam mengelola masa depan. Orang tua kita biasa berkata, bahwa sejarah adalah guru, pengalaman adalah penunjuk jalan. Nah, Pemerintah dan DPRD Kabupaten Sikka berkewajiban untuk mengisi, memberi bentuk dan meneruskan sejarah itu dengan rasa bangga, termasuk membangun sebuah Pasar Geliting yang megah.
Saya tidak punya catatan yang akurat tentang berapa besar biaya yang sudah dikeluarkan melalui APBD Kabupaten Sikka untuk membangun Pasar Geliting di lokasi yang baru. Sepanjang yang saya ingat, biaya pembebasan tanah pada APBD Sikka TA 2007 Rp 500 juta dan biaya pembangunan awal pada TA 2007/2008 sekitar Rp 1 milyar. Pada TA 2009 Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang mengalokasikan dana untuk pembangunan Pasar Geliting sebesar Rp 1,9 milyar pertanyaannya: berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk menuntaskan proyek Pasar Geliting menurut rancang bangun dan site-plannya?
Pada Pidato Kata Akhir Fraksi PDI Perjuangan menyertai penetapan APBD Kabupaten Sikka TA 2009, juru bicaranya Petrick da Silva menggarisbawahi sebuah harapan yang sangat tinggi, agar pemerintah menjadikan tiga proyek strategis: jalan lingkar luar kota Maumere, Pasar Alok dan Pasar Geliting, sebagai “proyek bergengsi” dalam masa kepemimpinan Bupati Sikka Drs. Sosimus Mitang. Justeru itu perlu ada tekad dan kemauan kuat dengan kiat yang tepat agar ketiga proyek tersebut dapat diselesaikan “lebih cepat, lebih baik” dalam rangka peningkatan pelayanan public.
Maumere, 22 Pebruari 2010,E.P. DA GOMEZ
saya dukung banget usulan dari bapak petrick da silva...maju terus nian tanah....
BalasHapusPasar Geliting untuk sekarang ini saya rasa tdk cocok lagi. dikarenakan para pedagang tdk memanfaatkan area pasar malah berjualan di pinggir jalan yang akhirnya menyebabkan kemacetan. Tahun 2009 telah dibangun pasar di kloanglagot, tapi kenapa sampai saat ini tdk dimanfaatkan.
BalasHapusSebagai orang Geliting pada khususnyan dan Maumere pada umumnya saya berharap pasar geliting yg sekarang ini segera diatasi PEMDA,jangan lagi cuman rencana dan rencana toh..tiap kali kalo pulang libur lihat kondisi pasar sama saja dari dulu ga ada perubahan,yg ada hari jumat kalo mo lewat di jalur ini harus bergelut dgn macet n ditambah lagi ulah pedagang yg jejalin barang dagangan nya hampir ke badan jalan..HARAPAN SAYA Pasar induk ini segera di tutup dan jangan lagi di pinggiran ruas jalan Negara. Alangkah baiknya bila areal pasar induk yg sekarang dijadiin Terminal / pesat perbelanjaan yg agak menarik atau modern dikitlah (mall / pertokoan).(cuman saran loh Mo'at) :D.itu aja dulu klo mnrut pndapat saya pribadi. slam Niam tana...
BalasHapustidak cocok dari segimananya dulu..? yg di salahkan bukan tempatnya tetapi orangnya, karena mereka tidak mematuhi peraturan pasar yang ada. jadi, menurut saya yang perlu di tertibkan itu adalah para pedagang yang tidak mematuhi peraturan yang ada. bukan karena ulah masyarakat trus pasar geliting di tutup dan di pindahkan ke tempat lain.
BalasHapusI LOVE GELITING....
BalasHapusbecause the service you have and I can live in bandung ...
I lived from the sale of agricultural produce
that every day on sale Friday at geliting market.
Selamat ulang tahun......i love geliting.....epan gawang
BalasHapusperkembangan psar geliting skrng jlaskan
BalasHapusapakah pasar geliting dan pasar kewapante itu sama untuk satu pasar atau tidak???
BalasHapus