MENELUSURI JEJAK NAMA KERAJAAN KANGAE

Longginus Diogo, (Kisah Kerajaan Tradisional KangaE AradaE Nian Ratu Tawa Tana, 27/02/2009), menjelaskan bahwa Kerajaan KangaE AradaE adalah sebuah kerajaan tradisional di Nuhan Ular Tana Loran (di tengah pulau ular ; Nuhan Ular sebutan terhadap Pulau Flores), lahir dari sebuah kepurbakalaan sebagai roh kehidupan awal.

Kenyataan ini tersirat pada kisah tradisi lisannya (oral tradisional) atau dalam bahasa Krowe disebut “ Duan Moan Latung Lawang “ yang artinya kisah (cerita turun temurun dari orang tua) tentang pemimpin dan peristiwa masa lampau yang dituturkan dalam bentuk puisi.

[caption id="attachment_542" align="alignright" width="300"] Silsilah Raja Kerajaan KangaE dari Raja Pertama sampai Raja ke 26[/caption]

Tradisi Duan Moan Latung Lawang ini menjadi warisan budaya yang diungkapkan secara terus menerun secara turun temurun. Terus diungkapkan secara berkesinambungan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya. Latung Lawang ini terutama ditujukan kepada orang yang memiliki garus keturunan dalam suatu suku / marga tertentu.

[caption id="attachment_543" align="alignright" width="300"] Silsilah Raja Kerajaan KangaE dari Raja ke 27 sampai Raja ke 39[/caption]

Didalam “Duan Moan Latung Lawang” ungkapan tentang Kerajaan KangaE masih terwariskan secara turun temurun dan berkesinambingan. Pada tahun 1995, hingga pewaris terakhir Latung Lawang Kerajaan KangaE, Moan Stanis Blai (80), meneruskan kisah Kerajaan KangaE ini kepada Moan Pede Yohanes, seorang keturunan Meken dari garis pihak perempuan), oleh Pede, Latung Lawang itu dicatat secara utuh dan diberi judul Nge Ngerang Pi Lapen Dolor Doda Lepo Meken Bemu Aja KangaE (2001).

Asal nama KangaE dalam disampaikan dalam Latung Lawang : Nian Ratu Tawa Tana. Seperti yang diterjemahkan Longginus Diogo, Nian Ratu Tawa Tana berarti Bumi Kerajaan Asal Tanah, maksudnya KangaE merupakan sebuah kerajaan yang lahir dari bumi masyarakat KangaE itu sendiri, tanpa ada pengaruh dari luar. Kerajaan KangaE sebagai sebuah kerajaan tradisional didirikan Moan Bemu Aja, kira – kira tahun 900 an.

Alkisah, Moan Bemu Aja yang adalah keturunan dari Rae Raja di Buanggala (Bangladesh), bertualang dari Siam Umalaya menuju Buju Boja, Bara Laka, Sina Sipa Malaka, lalu menemukan Wolon Mapan Gahar (Bukit Barisan) di Sumatera.

Dari Sumatera mereka berangkat lagi ke Gorong Tana Serang (Pulau Seram Maluku). Namun karena terjadi bencana alam di Binaya, mereka pun berpaling meinggalkan Gorong Tana Serang melalui Watu Beta, Kei Tana Timu, Nunu Roa, Wuli Ari, Sira Dara, Leti Mata, Kesar, Wetar dan berakhir di Soda Otang Watumilok menuju Todang Detung.

Disana, Moan Bemu Aja lalu menikahi Dua Gurun Meran, seorang putri tunggal dari Tana Puan Bogar dan Dua Pale Plapeng, seorang keturunan Lai Meken Moan Puan. Karena menikahi seorang putri seorang tanah puan, Bemu Aja pun diangkat menjadi Moan Puan Tana Puan Tawa Tana.

Dengan pengetahuan yang dimilikinya dari tempat asalnya di Buanggala (Bangladesh), Bemu Aja mulai melakukan perubahan – perubahan. Pakaian dari kulit kayu yang dikenakan masyarakat saat itu mulai diganti dengan kain tenunan.

Awalnya Bemu Aja mengajari isterinya, Dua Gurun Meran, Bopo Kapa Norulorun (bertenun). Saat melakukan proses bertenun, ada tahapan pencelupan benang seorang penenun harus melakukan pekerjaan ‘Kale Ngaeng’ atau ‘Kale Wali Ngaeng Wali’ (membolak balik benang saat pencelupan / pewarnaan). Sehingga tempat / lokasi dimana dilakukannya Kale Ngaeng lama kelamaan disebut dengan KangaE.

Untuk menguatkan benang, digunakan Ara Kapa (sejenis perekat seperti kanji), sesudahnya benang yang direkatkan dengan Ara Kapa, diuraikan yang disebut dengan Daing Mekat. Tempat dilakukannya proses penguraian benang ini dinamakan Ara Dae. Sehingga sebutan Kerajaan KangaE diperlengkap dengan Ara Dae.
Saat mendatangi Nian Flores, Bemu Aja juga membawa serta sejumlah benang dan benang yang masih tersimpan disebut Gore Kapa Bekor.

Karena keuletannya menenun, Dua Gurun Meran dijuluki Dua Legur Rewu yang berarti perempuan penepis debu. Sebab jauh sebelum datangnya Bemu Aja, debu oleh masyarakat lokal kala itu dipercayai diwariskan Dua Krowe Kuat Puan.

Selain itu, Moan Bemu Aja juga membawa perubahan di bidang adat kepercayaan. Dari Watu Mahang yang dibuat dari batu biasa diganti dengan Watu Mahang Gajak Ahang. Sementara alat – alat pembawa kurban seperti Luli Korak Tawu Wajak diganti dengan Pinggan / piring, cangkir dan mangkuk buatan Cina yang didatangkan dari Malaka. Perubahan – perubahan ini lalu dikenal dengan ungkapan :
Oa naha e pigang sina,
Inu naha e tawu laka
Pigang tena sina mitan,
luli tena loka meran


Moang Bemu Aja juga melakukan perubahan sistem pemerintahan dari sistem pemerintahan adat, Dua Moan Watu Pitu ke sistem pemerintahan kerajaan tradisional. Baru pada masa Pemerintah Belanda, sistem kerajaan tradisional ini diubah lagi ke sistim pemerintahan kerajaan yang labih modern.
Dalam oral tradisional kerajaan KangaE AradaE, terungkap ada 38 raja adat (Sistem kerajaan tradisional) dan 1 raja koloni Belanda (Sistem kerajaan modern), selengkapnya baca: http://nianalok.wordpress.com/2010/03/09/sekilas-kerajaan-kangae/
( john oriwis )

6 komentar:

  1. makasih aji...informasi penting buat sy krn banyak materi kuliah yang berkaitan dengan politik lokal...sejarah pemerintahan sikka masa lampau..Tuhan memberkati ..amin

    BalasHapus
  2. Part 2 yg sy tunggu2, pnya nenek moyang raja2 tp tdak tw asal usulnya...tq buat ka topan n besar longginus,.,.,.,.,

    BalasHapus
  3. saya rasa cerita sejenis kerajaan kangae masih banyak di kab. sikka. bagus untuk diketahui generasi muda. salut utk kak pede dan bapak longginus diogo. tdk lupa sonia fm.

    BalasHapus
  4. MARIA HELENA DIOGO3 Juni 2010 pukul 06.22

    Ternyata di Maumere, Flores ada juga sebuah Kerajaan, yaitu KERAJAAN KANGAE yang selama ini dilupakan dan atau sengaja dilupakan. Saya yakin, tulisan tentang "Menelusuri Jejak Nama Kerajaan Kangae" ini tidak bermaksud untuk membangun sentimen suku dan atau membanggakan suku tertentu. Semoga dengan adanya tulisan ini, wawasan kita tentang sejarah Kabupaten Sikka - Maumere menjadi semakin luas dan berkembang. Sukses untuk para penulisnya dan saya menantikan tulisan yang lainnya tentang sejarah dan atau adat Kab. Sikka - Maumere. Teriring salam manis dari Nona. Terima kasih.

    BalasHapus
  5. sejarah itu sangat penting buat kita semua agar adat istiadat dan kebudayaan daerah tetapterjaga dan menjadi sumber pengetahuan generasi penerus..jangan kita terbuai dengan perkembangan jaman terus kita lupa dngan asal usul kita atau sejarah daerah kita sendiri

    BalasHapus