Pulau Ular Naga Sawaria adalah Sebuah nama pulau yang asing bagi masyarakat Indonesia, karma nama ini tidak ada dalam gugusan kepulauan Indonesia. Namun masyarakat Etnis Krowe memiliki kisah tradisi lisan (oraltradition) atau dalam bahasa Krowe disebut Duan Moan Latung Lawang yang mengisahkan kejadian Pulau Ular Naga Sawaria itu. Naruk Duan Moan Latung Lawang artinya kisah tentang peristiwa sejarah dan pemimpin masa lampau yang dituturkan secara puitis. Duan Moan Latung Lawang ini merupakan warisan budaya, yang diteruskan secara turun-temurun dalam garis keturunan suatu suku / marga. Antara lain warisan budaya kisah tradisi lisan dari Lepo Meken Bemu Aja di Meken Detun Wololaru Poma Pihak Watudaring Mei Erin Blata Tatin, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka yang diterjemahkan sebagai berikut :
[caption id="attachment_993" align="alignright" width="300"]
Pada awal mula di zaman purbakala
Ketika bumi ini belum tercipta
Alam jagat raya ini hanya diliputi air belaka
Dan berawal dari batu wadas di dasar air
Di kedalaman perut bumi yang kokoh bagai baja
Bertumbuh kembanglah terumbu karang
Dari wadas di kedalaman dasar air itu.
Namun masih terlihat ombang ambing
Tampak masih timbul dan tenggelam
Bagaikan belahan tempurung yang hanyut
Tampak melintang bagai bangkai seekor ular yang mati
Bagaikan seekor Ular Besar –Ular Naga Sawaria
Airpun mengalir memisahkan diri
Tampak gunung batu karang
Namun masih terombang-ambing
Timbul lalu tenggelam lagi
Dan datanglah Ayahhanda Burung Garuda
Membawa tanah dari matahari
Dikibas-kibasnya ke gunung karang Ilin Goran
Lalu datang pula Ibunda Rajawali
Membawa batu-batu dari bulan
Batu-batu itu ditumpuk susun pada tanah
Dan bumi pun matang bagai buah pisang tua
Dan tanah pun mengeras bagai batang “ OA “
Terjadilah 7 buah sungai, yang diapit delapam bukit
Dan terjadilah PULAU ULAR NAGA RAKSASA.
Demikian sebuah kisah legendaris tentang kejadian Pulau Ular Naga Sawaria, sebuah pulau yang bentuknya seperti seekor Ular Naga Raksasa. Pulau ini berasal dari terumbu karang yang tumbuh dari wadas yang berada di bawah kedalaman pusat perut bumi. Dan di kedalaman pusat perut bumi itu, para leluhur meyakini adanya INA NIAN TANA WAWA (IBU BUMI) sebagai SANG PENCIPTA. Pulau karang itu disirami dengan tanah yang berasal dari matahari dan ditumpuk susun dengan batu yang berasal dari bulan. Para Leluhur Etnis Krowe juga meyakini adanya AMA LERO WULAN RETA (BAPAK LANGIT), sebagai SANG PENGUASA DAN BUMI. Kisah legendaris ini makna simbolis, bahwa alam jagat raya ini adalah Cipataan Tuhan Yang Maha Esa dan dipelihara oleh Allah Yang Maha Kuasa.
[caption id="" align="alignleft" width="300"]
MAPAN GANU ULAR MATEN
ULAR NAGA SAWARIA
DADI NAPUN PITU WOLON WALU
NUHAN ULAR-ULAR NAGA SAWARIA
Pulau yang bentuknya seperti Ular Naga Sawaria itu adalah Pulau Flores yang bentuknya mirip bagai seekor ULAR NAGA SAWARIA.
Pulau yang bentuknya seperti Ular Naga Sawaria itu disebut NUHAN ULAR TANA LORAN. Wilayah Nuhan Ular Tanah Loran ini meliputi 11 Wilayah Hoak Hewer (Setingkat distrik, hamente, kecamatan) yakni Kringa, Werang, Waigete, Wolokoli, Hewokloang, Ili, Wetakara, Nelle, Koting dan Nita. Wilayah Nuhan Ular Tanah Loran dihuni dua Etnis Penduduk Asli Yakni Etnis Krowe dan Etnis Krowin, yang adanya keturunan dari Leluhur yang satu ialah Dua Krowe Kuat Puan yang artinya Ibunda Krowe Asal-Muasal Marga/Suku. Dua Krowe adalah Perempuan asal tanah atau Dua Tawa Tana di Wilayah Meken Detun Wolowaru Poma Pihak WQatu Daring Mei Erin Blata Tatin. Etnis Krowe mendiami wilayah Doreng, Waigete, Wolokoli, Hewokloang, Ili, Wetakara, Nelle, Koting dan Nita. Etnis Krowin mendiami wilayah Kringa dan Werang.
Wilayah Nuhan Ular Tanah Loran merupakan wilayah inti dari Kabupaten Sikka. Sedangkan Wilayah Muhan, Palu’e, dan Lio Maumere baru menyatu dengan Nuhan Ular Tanah Loran seputar tahun 1902. Adapun kish adanya Wilayah Kabupaten Sikka dapat diuraikan sebagai berikut :
Sejak zaman asli tradisional wilayah Nuhan Ular Tanah Loran menganut Sistim Pemerintahan Dua Moa Watu Pitu, yaitu suatu bentuk Pemerintahan KOLEGIAL RELIGIUS, yang ditata oleh Putra Sulung Dua Krowe, bernama LAI MEKEN yang artinya Putra asal Meken Detun Wolowaru Poma Pihak Watu Daring Mei Erin Blata Tatin.
Oleh karena itu Lai Meken dijuluki LAI MEKEN MOAN PUAN TANA PUAN TANA WAWA yang artinya LAI MEKEN PEMIMPIN PERDANA TUAN TANA ASAL TANA. Ia sebagai Moan Puan memimpin bersama dengan 7 Kepala Suku (Lepo) yang tugasnya memimpin Upacara menghormati Leluhur, memohon doa restu, menolak bala, dan mohon pengampunan. Mereka disebut Moan Watu Pitu.
Pada tahun 900 M Moan Bemu Aja, seorang keturunan RaE asal Bangladesh, dibesarkan di Kerajaan Sriwijaya, menikah dengan Dua Gurun Meran, diangkat menjadi Moan Puan Tana Puan Tawa Tana, lalu merubah sistim Pemerintahan Dua Moan Watu Pitu menjadi sistim Pemerintahan kerajaan. Wilayah kekuasaan meliputi seluru wilayah Nuhan Ular Tanah Loran.
[caption id="" align="alignright" width="300"]
Pada tahun 1600-an para Misionaris Portugis yang berpusat di Lifao Timor Timur, bersama para pembantunya Menyebarkan Agama Katolik ke Pulau Flores termasuk datang ke Nuhan Ular Tanah Loran. Para pembantu Misionaris Portugis itu berasal dari rupa-rupa bangsa dan daerah. Mereka menyinggahi Natar Hokor Gun, lalu mengusir Orang Hokor dan Merebut Natar Hokor Gun lalu membanggun Natar Sikka. Diatas Natar Sikka ini pemerintah portugis mendirikan Kerajaan Sikka pada tahun 1607, dengan Rajanya Don Alesu. Juga berdiri kerajaan Nita sebagai jajahan Portugis. Dengan demikian sejak tahun 1600-an Nuhan Ular Tana Loran terpecah menjadi 3 buah wilayah kerajaan yaitu: Kerajaan Sikka di Natar Sikka, Kerajaan Nita di wilayah Hoak Hewer Nita. Sedangkan sisanya wilaya Kerajaan kangaE.
Pada tahun 1885 seputar tanggal 11 September Portugis secara resmi menyerahkan Kerajaan sikka dan Kerajaan Nita Kepada Belanda. Wilaya Kerajaan Sikka diperluas dengan dimasukan Wilayah Hoak Hewer Nele dan Koting, dan ibukota Kerajaan berada di Alok Wolokoli (Maumere). Kerajaan Nita meliputi: Hoak Hewer Nita dan Kerajaan KangaE Kehilangan wilayah Nele dan Koting. Belanda dengan bantuan Raja Sikka melakukan penyerangan terhadap Ratu Keu Nago bersama Para Tana Puan Gete Yakni Moan Beto Blero di Kringa, Dua Toru di Werang, Moan Jawa Baoleng di Waigete. Pada 26 November 1902 Kerajaan Kanga E diserang Oleh serdadu “ Marsese” di bawah Komando Raja Yoseph Mbako II da Silva, yang oleh Penduduk setempat dijuluki Ratu Bako Bait Sikka, Ratu Keu Nago/Raja Adat KangaE ke-38 dilucuti dan diberhentikan.
Pada 8 Desember 1902 Belanda Mengangkat Moan Nai Juje yang adalah saudara sepupu Ratu Keu Nago, menjadi Raja KangaE. Beliau adalah satu-satunya Raja Koloni Belanda di Kerajaan KangaE,(1902-1925) Raja Nai Juje menandatangani kontrak Korte Verklaring dengan Belanda, bersama Raja Larantuka dan Raja Lio Lise.
[caption id="" align="alignleft" width="240"]
Kontrak Korte Verklaring itu berkaitan dengan kesepekatan perbatasan wilaya Onderafdeling. Kesepakatan perbatasan antara Onderafdeling Maumere dan Oderafdeling Flores Timur berdampak :
1. Wilaya Muhan dari Kerajaan Larantuka / Onderafdeling Flotim, ditarik masuk kerajaan KangaE / Onderafdeling Maumere.
2. Wilaya Hewa dari Kerajaan KangaE / Onderafdeling Maumere ditarik masuk ke Kerajaan Larantuka / Onderafdeling Flotim.
Kesepakatan perbatasan antara Onderafdeling Maumere dengan Onderafdeling Ende Berdampak:
1. Pulau PaluE Bu Mbengu (Paga) dan wilaya Mego Wena (Lekebai) dari kerajaan Lio Lise ditarik masuk Kerajaan Sikka / Onderafdeling Maumere.
2. Wilaya Mego Wawo (Magepanda) ditarik dari kerajaan Lio Lise / Onderafdeling Ende, Masuk ke kerajaan Nita / Onderafdeling Maumere. Dengan demikian sejak tahun 1902 Wilaya Onderafdeling Maumere meliputi Wilaya Nuhan Ular Tana Loran ditambah Wilayah Muhan, , PaluE, dan Lio-Maumere. Onderafdeling Maumere Meliputi 3 Wilayah kerajaan yaiyu : KangaE, Sikka, dan Nita.
Pada tahun 1925 Kerajaan KangaE dan Nita atas kebijakan Belanda harus menamatkan riwayatnya pada 14 November 1925. Kedua Kerajaan Ini Dilebur kedalam Kerajaan Sikka, dengan rajanya Don Yosephus Thomas Ximenes da Silva.
Pada tahun 1958 tepatnya pada 14 Desember 1958 terbentuklah Daerah Swatantra Tingkat II Sikka, Sebagai masa perahlian menuju daerah otonom yang demokratis. Tanggal 14 Desember merupakan hari lahirnya Kabupaten Sikka. Raja Don P. Centis Ximenes da Silva masih diberi kepercayaan sebagai kepala Daswati II Sikka. Dengan ini kerajaan Sikka pun menamatkan riwayat kerajaannya.
Pada tahun 1960 terbentuklah Kabupaten yang definitive yang bertumpuh pada bekas wilayah Onderafdeling Maumere yang namanya sudah merupakan nama perekat dan pemersatu. Dalam proses pengajuan nama Kabupaten, nama Maumere tersingkirkan dan lahirlah nama Kabupaten Sikka. Nama ini sempat mendapat protes dari para Anggota DPRD Sikka saat itu. Pada 1 Maret 1960 P.S da Cunha dilantik Menjadi Bupati Sikka yang pertama.
Demikian alur Kisah PULAU ULAR NAGA SAWARIA, dan Wilaya NUHAN ULAR TANAH LORAN, yang dipersatukan denggan MUHAN, PALUE, DAN LIO MAUMERE, Menjadi ONDERAFDELING MAUMERE, dan akhirnya Menjadi KABUPATEN SIKA.
Semoga Kisah tradisi lisan tentang PULAU ULAR NAGA SAWARIA ini dapat bermanfaat bagi upaya pelestarian sejarah dan nilai tradisional di kabupaten Sikka. Oleh : LONGGINUS DIOGO.
*) Foto - foto diatas merupakan direct link dari wikimedia.org (admin)
(1). semoga tulisan ini dapat menambah koleksi warisan tentang sejarah dan tradisi budaya Kab. Sikka.
BalasHapus(2). semoga tulisan dapat menjadi alat pemersatu beragam adat dan budaya yg ada di Kab. Sikka.
Buat Om Diogo..mohon maaf Moat baru sempat kami posting sekarang...Epan Gawan...
BalasHapusRALAT : untuk artikel PULAU ULAR NAGA SAWAH RIA
BalasHapusdalam penjelasan singkat isi syair-syair adat terdapat kekeliruan pengetikan pada baris ke- 16, yang tertulis :
" Pulau yang bentuknya seperti Ular Naga Sawaria .............................."
(seharusnya berbunyi )
" Bagian Tengah dari Pulau Ular Naga Sawaria itu................................"
Demikian kekeliruan ini kami perbaiki.
Terima Kasih .
LONGGINUS DIOGO
thks atas ulasan yang menarik ini...mudah-mudahan bermanfaat utuk khazanah budaya nian tanah...oh..ya..ada secuil koment mengenai pelucutan Ratu KEU..di Kang`Ae lebih pas adalah Moan Keu memberi kepercayaan kepada sepupunya Moan Nai untuk menggorganisir masyarakat pesisir dalam tuturnya sbb: wue wari aun moan Nai au weli au doe kuasa lau tahi wiwir deri mora ata bura..na..au reta nitun Kang`ae. Penulisan kata Kangae lebih tepatnya adala Kang`Ae yang terdiri dari 2 suku kata kang (elang/gagak) ae (ai/kayu) lambang/simbol keperkasaan yang ditatakan diatas bubungan rumah (lepo) ratu.
BalasHapusnian flores, puan wutun naruk dunia
BalasHapusAssalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda
BalasHapus