(Cuplikan dari buku KANGAE ARADAE, Penulis Longginus Diego))
Kanilima adalah sebuah organisasi kecil yang diambil dari nama daerah asal para tokoh yang tergabung didalamnya, yakni dari wilayah Kangae, Nita dan Lio – Maumere sehingga disingkat Kanilima.
Kanilima yang didirikan tahun 1948 hadir sebagai sebuah kelompok reformasi yang mendobrak tembok rezim feodal otoriter serta mengikis politik dominasi Sikka atau sikkanisasi. Mereka berjuang dengan tujuan membuka kran demokrasi di Kabupaten Sikka. Melalui sebuah peristiwa yang dikenal dengan Wai Oti Berdarah pada 04 Mei 1948, pentas demokrasi pun dimulai di Kabupaten Sikka.
Longginus Diogo, dalam buku Kisah Kerajaan Tradisional Kangae Arade, Nian Ratu Tawa Tanah (27/02/2009) menuturkan, menulis sejarah Kanilima bukan berarti mau mengungkit masa lampau, karena sejarah adalah sebuah studi dan pelajaran. Melalui sejarah, orang mempelajari masa lampau untuk menata masa depan yang lebih baik. Kanilima adalah sebuah sejarah, jadi perlu dikenal dan dipelajari.
Apa sebenarnya Kanilima itu ? Kanilima adalah singkatan dari KangaE, Nita dan Lio Maumere. Kangae dan Nita adalah wilayah yang ada di (bekas) Kerajaan Sikka, sedangkan Lio Maumere, merupakan kelompok masyarakat Lio yang sejak tahun 1902 masuk wilayah Onderafdeling Maumere. Selama kurang lebih 20 tahun mereka (Lio Maumere, hingga saat ini belum ada tulisan jelas perihal masuknya Lio ke dalam Maumere - Kerajaan Sikka) juga mengalami nasib yang sama pada masa pemerintahan Raja Don Thomas. Karenanya mereka lalu merapatkan barisan bersama KangaE dan Nita ke dalam sebuah kelompok yang dikenal dengan sebutan Kanilima.
Kanilima juga merupakan gerakan politis arus bawah yang berjuang untuk membebaskan diri dari kungkungan rezim yang feodal otoriter. Mereka mau melepaskan diri dari tindakan kekerasan, penindasan dan pemerasan.
Suatu gerakan yang mau mengadakan perubahan sistem pemerintahan dari feodal – otoriter ke sistem pemerintahan yang demokratis, serta mengubah sistem politik dominasi Sikka dengan sistem politik kesetaraan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka Kanilima adalah sebuah gerakan reformasi.
Perjuangan Kanilima disemangati oleh Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, yang telah menumbangkan sistem pemerintahan imperialisme dan kolonialisme Belanda yang bercokol di Hindia Belanda (Indonesia) selama 350 tahun.
Maka pada tahun 1947, para tokoh masyarakata dari KangaE, Nita dan Lio Maumere mulai menggalang kekuatan arus bawah dalam bentuk gerakan bawah tanah. Mereka jalan dari kampung ke kampung, mereka merasa tergugah dan terpanggil untuk mengemban amanat rakyat Kanilima (KangaE, Nita dan Lio Maumere).
Barisan KangaE dipimpin Moan P. Y. Bapa dan Yan Jong, Barisan Nita dipimpin Guru Phiter Pedor dan Fr. Jati sedangkan barisan Lio Maumere dipimpin Guru Donatus Pale, G. Gego, P. Pango dan Frans Sari. (djo)
"Kanilima Movement" merupakan seberkas cahaya yang indah dalam cerminan sejarah Kabupaten Sikka. Momen ini menjadi pelajaran sejarah yang amat berarti bagi semua generasi muda Kabupaten Sikka ke depan, bahkan menjadi sebuah contoh, bagian dari sejarah demokrasi global. Sangat tidak benar kalau mempelajari pengalaman sejarah sebagai guru terbaik ini dianggap mengungkit-ungkit masa lalu. Itu hanyalah kegelisahan dari kelompok-kelompok tertentu yang merasa tersinggung karena menjadi bagian hitam dari otoriterianisme feodal. Salam hormat for (alm) Yan Djong, salah seorang aktivis Kanilima yang digosipkan "kiri" oleh pihak-pihak yang rakus kekuasaan kala itu. God Bless Maumere !
BalasHapus