Kerajaan KangaE AradaE adalah sebuah kerajaan tradisional yang mempunyai “Olang Bekor” (tempat asal usul) di wilayah Meken Detun Wololaru Poma Pihak Watu Daring Mei Erin Blata Tatin, tepatnya di Nuhan Ular Tana Loran (ditengah Pulau Flores, Kabupaten Sikka minus Wilayah Muhan, Lio dan PaluE plus Hewa).
Kerajaan KangaE AradaE didirikan oleh Moan Bemu Aja, seorang keturunan Rae Raja asal Bangladesh yang mengungsi ke Sumatera. Pada tahun 900 an, Moan Bemu Aja adalah salah seorang yang ikut serta dalam armada Raja Bala Putra Dewa dari Kerajaan Sriwijaya. Armada ini dalam perjalanannya terdampar di Soda Otang Watumilok dan untuk sementara waktu mereka terpaksa mendiami Watumilok.
Di Watumilok, Moan Bemu Aja menikahi Dua Gurun Meran, putri tunggal Tana Puan Tawa Tana di Meken Detun. Oleh Tana Puan, Moan Bemu Aja diangkat sebagai Tana Puan Tawa Tana di Nuhan Ular Tana Loran. Dengan berbekal pengetahuan dibidang pemerintahan kerajaan dan kekuasaannya sebagai Tana Puan, Bemu Aja merubah sistem pemerintahan lokal yang dikenal dengan Dua Moan Watu Pitu ke sistem pemerintahan kerajaan.
Wilayah Kerajaan KangaE kala itu dibagi dalam 11 Hoak Hewer (wilayah komunitas adat yang terdiri dari beberapa bukit atau berdasarkan wilayah kesatuan adat). Setiap wilayah Hoak Hewer dipimpin Tana Puan Gete.
Ada 38 raja adat , Bemu Aja sebagai raja pertama di Kerajaan KangaE (tahun 900 – 927) hingga Ratu Keu Nago (1876 – 1902). Pada tahun 1902, Kerajaan KangaE AradaE jatuh ke tangan Belanda dan Moan Nai Juje yang adalah saudara sepupu dari Ratu Keu Nago diangkat sebagai Raja Koloni Belanda pada 08 Desember 1902.
Nai Juje merupakan Raja ke 39 dan merupakan raja pada masa pemerintahan Koloni Belanda. Juje mengakhir masa kekuasaannya sebagai raja pada tanggal 14 November 1925.
Pada tahun 1925, untuk menghemat anggaran belanja Kolonial Belanda mempersatukan Kerajaan KangaE yang dipimpin Raja Nai Juje dan Kerajaan Nita yang dipimpin Raja Don Juang ke dalam Kerajaan Sikka dengan Don Yosephus Thomas Ximenes da Silva sebagai Raja.
Selama menjadi raja, Nai Juje melakukan pembangunan sumur antara lain di Wair Habi, Wair Hubin, Wai (r) Oti, Wair Habi Gete, Wair Nitun, Wai (r) Pare, Wair Ili dan sejumlah sumur di Tanjung Darat dan Wodong.
Selain membangun sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Kerajaan KangaE kala itu, Raja Nai Juje bersama Missi (Misionaris dari Eropa) juga mendirikan sejumlah sekolah di Bola, Wetakara dan Wairotang. Karenanya Nai Juje juga boleh dikatakan sebagai Raja Pembangunan di KangaE. Demikian Longginus Diogo. (John Oriwis/Jonathan)
Kerajaan KangaE AradaE didirikan oleh Moan Bemu Aja, seorang keturunan Rae Raja asal Bangladesh yang mengungsi ke Sumatera. Pada tahun 900 an, Moan Bemu Aja adalah salah seorang yang ikut serta dalam armada Raja Bala Putra Dewa dari Kerajaan Sriwijaya. Armada ini dalam perjalanannya terdampar di Soda Otang Watumilok dan untuk sementara waktu mereka terpaksa mendiami Watumilok.
Di Watumilok, Moan Bemu Aja menikahi Dua Gurun Meran, putri tunggal Tana Puan Tawa Tana di Meken Detun. Oleh Tana Puan, Moan Bemu Aja diangkat sebagai Tana Puan Tawa Tana di Nuhan Ular Tana Loran. Dengan berbekal pengetahuan dibidang pemerintahan kerajaan dan kekuasaannya sebagai Tana Puan, Bemu Aja merubah sistem pemerintahan lokal yang dikenal dengan Dua Moan Watu Pitu ke sistem pemerintahan kerajaan.
Wilayah Kerajaan KangaE kala itu dibagi dalam 11 Hoak Hewer (wilayah komunitas adat yang terdiri dari beberapa bukit atau berdasarkan wilayah kesatuan adat). Setiap wilayah Hoak Hewer dipimpin Tana Puan Gete.
Ada 38 raja adat , Bemu Aja sebagai raja pertama di Kerajaan KangaE (tahun 900 – 927) hingga Ratu Keu Nago (1876 – 1902). Pada tahun 1902, Kerajaan KangaE AradaE jatuh ke tangan Belanda dan Moan Nai Juje yang adalah saudara sepupu dari Ratu Keu Nago diangkat sebagai Raja Koloni Belanda pada 08 Desember 1902.
Nai Juje merupakan Raja ke 39 dan merupakan raja pada masa pemerintahan Koloni Belanda. Juje mengakhir masa kekuasaannya sebagai raja pada tanggal 14 November 1925.
Pada tahun 1925, untuk menghemat anggaran belanja Kolonial Belanda mempersatukan Kerajaan KangaE yang dipimpin Raja Nai Juje dan Kerajaan Nita yang dipimpin Raja Don Juang ke dalam Kerajaan Sikka dengan Don Yosephus Thomas Ximenes da Silva sebagai Raja.
Selama menjadi raja, Nai Juje melakukan pembangunan sumur antara lain di Wair Habi, Wair Hubin, Wai (r) Oti, Wair Habi Gete, Wair Nitun, Wai (r) Pare, Wair Ili dan sejumlah sumur di Tanjung Darat dan Wodong.
Selain membangun sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Kerajaan KangaE kala itu, Raja Nai Juje bersama Missi (Misionaris dari Eropa) juga mendirikan sejumlah sekolah di Bola, Wetakara dan Wairotang. Karenanya Nai Juje juga boleh dikatakan sebagai Raja Pembangunan di KangaE. Demikian Longginus Diogo. (John Oriwis/Jonathan)
bagus skali artikelx,,,membuka mata dan hati kita serta pengetauan yang lebih tentang sejarah kita........
BalasHapusartikelnya bagus, sy jd tau ttg budaya n sejarah pemerintahan n karajaan Kangae..
BalasHapusmenambah pengetahuan dan makin menghargai keberadaannya sebagai sejarah...
trmkasih banyak ya ade berdua...sy banyak butuh data2 sprti ini...buat referensi tugas2 kuliah ttg politik lokal tentunya....terimakasih...Tuhan memberkati...
BalasHapusmenarik sekali Ulasanx membuat pikiran makin terbuka dan wawasan makin bertambah info sejarah dan kearifan lokalx..........
BalasHapusandai mungkin apakah ada cerita ttg asal usul nama Kerajaanx diberi nama Kangae ataukah mmg dari awalx tempat itu bernama Kangae?? tentux ada cerita asal usul sebuah nama.....?? biar makin komplit. thx
akan kami usahakan. makasih atas kommennya
BalasHapuspelajaran berharga bagi kita semua.mengenang. yang nulis neh cocok jadi guru sejarah...heheheh
BalasHapusMenurut Longginus Diogo, Dengan pengetahuan yang dimilikinya dari tempat asalnya di Buanggala (Bangladesh), Bemu Aja mulai melakukan perubahan – perubahan. Pakaian dari kulit kayu yang dikenakan masyarakat saat itu mulai diganti dengan kain tenunan.
BalasHapusAwalnya Bemu Aja mengajari isterinya, Dua Gurun Meran, Bopo Kapa Norilorun (bertenun). Saat melakukan proses bertenun, ada tahapan pencelupan benang seorang penenun harus melakukan pekerjaan ‘Kale Ngaeng’ atau ‘Kale Wali Ngaeng Wali’ (membolak balik benang saat pencelupan / pewarnaan). Sehingga tempat dilakukannya Kale Ngaeng lama kelamaan disebut dengan KangaE.
Demikian nama tempat itu pun dipakai sebagai nama Kerajaan KangaE.
Dari mana bapak Longginus Diogo mendapatkan sumber data-data yang baru kita ketahui sekarang ini? sejak dulu kita tidak pernah tahu dan tidak pernah dengar nama raja-raja KangaE tersebut.Lebih ironisnya lagi masa jabatan kekuasaan raja pertama dan raja selanjutnya seperti sudah dibatasan kekuasaan selama 27 tahun. Yang kita ketahui Raja KangaE hanyalah Raja Juje. juga tidak pernah disinggung dalam buku-buku sejarah tulisan dua tokoh sejarahwan besar DDP KONDI dan A.BOER PARERA yang lahir di akhir abad 18 dan sejak jaman itu sudah menulis dan tidak pernah menyinggung tentang raja-raja adat kerajaan KangaE tersebut, padahal dua tokoh sejarawan tersebut menulis berdasarkan referensi dan wawancara dari tokoh-tokoh tua termasuk dari wilayah KangaE.. Sebutan Raja/Ratu baru dikenal sejak pulangnya Raja Don Alesu Ximenes da Silva dari Malaka yang diberi tongkat kerajaan oleh Raja Worilla pada tahun 1602 sebagai raja pertama kerajaan Sikka yang menguasai wilayah Nuhan Ular Tanah Loran .. Ayah dari Don Alesu adalah Penguasa wilayah yang lebih dikenal sebagai "Inang Gete-Amang Gahar".. Bagaimana mungkin dalam satu wilayah kekuasaaan terdapat dua penguasa? Ini Perlu ditelusuri keabsahan sejarahnya...
BalasHapusPa Thomas, di Flores ini ada banyak kerajaan. di Kabupaten Sikka tidak saja ada kerajaan Sikka tapi ada tiga kerajaan lain. Yakni KangaE, Nita dan Paga (namun di Paga lebih dikenal dengan sebuatan Ria Bewa Ata Laki).
BalasHapusNamun ketiga kerajaan tersebut oleh Penjajah Belanda kala itu digabungkan menjadi satu dalam Kerajaan Sikka.
Penulisan sejarah kerajaan dari masing - masing wilayah ini adalah pada soal keterlambatan waktu, orang dan niat untuk menulis sejarah kerajaan. Soal Kerajaan KangE baru ada niat dibukukan oleh Moat Longginus, sekarang buku - buku itu sudah ada disekolah2, judulnya KISAH KERAJAAN TRADISIONAL KANGAE ARADAE NIAN RATU TAWA TANA..... terima kasih.
Untuk sdr. Thomas, andaikan saja sejarahwan besar DDP Kondi dan A. Boer Parera masih hidup, mereka pasti akan tertawa membaca komentar anda. Mengapa?? Karena anda tidak merinci apa yang menjadi topik utama pada saat kedua tokoh besar ini mewawancarai tokoh-tokoh tua, termasuk dari Kerajaan Kangae. Apakah topik wawancaranya tentang "silisilah kerajaan Kangae' atau tentang 'sistem pemerintahan' atau tentang 'ekonomi' atau tentang 'upeti kepada penjajah Belanda' atau tentang 'perjuangan kemerdekaan dari penjajahan Belanda' atau apalah. Rupanya kedua tokoh besar ini, tidak mewancara tentang raja-raja di Kerajaan Kangae, jadi ya... wajar dong, kalau kedua tokoh besar ini tidak tahu dan tidak menulis tentang raja-raja di Kerajaan Kangae.
BalasHapusSebaiknya kita jangan iri atau sinis, apabila muncul tulisan sejarah tentang adanya Kerajaan lain di Kabupaten Sikka yang memang selama ini dilupakan dan atau mungkin fakta sejarahnya diputarbalikan. Dan seiring bergulirnya waktu, bapak Longginus Diogo mengisahkan tentang riwayat Kerajaan Kangae (tentunya berdasarkan apa yang dilihat, dialami dan dirasakan sebagai pelaku atau saksi sejarah & dokumen pustaka sejarah) dan mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Inikan kekayaan, ragam budaya dan sejarah kabupaten Sikka yang harus kita lestarikan bersama. Tulisan bapak Longginus Diogo sama sekali tidak bermaksud untuk membangkitkan sentimen suku, mengangkat dan atau menjatuhkan suku-suku tertentu. Teriring salam dari perantuan, bravo MAUMERE MANISE...
Dear all;
BalasHapusNice to see some info about this.But in the older part I have some doubt.I saw more stories of people of raja clans,who treid to say(sorry),that they were for a long time in the areas as rulers.But not erally to my opinion as rajas.I know,that KangaE was before an era with several tribes.The later KangaE clan in ca. 1900 only had in a little part real influence.
Holland made the later raja clan real raja of total area to be a buffer between larantuka and Sikka.I can understand the claim,but I am not much in favouyr of it,.Anyway:much interesting the total story. Thank you. Salam hormat: DP Tick/Holland
Salam,
BalasHapusSaya ingin membeli buku Kisah Kerajaan Tradisional Kangae Aradae-Nian Ratu Tawa Tana dan buku oleh Bapak Moa Pede Yohanes, akan tetapi sulit diperoleh di Jakarta. Apakah bisa membantu? Terima kasih.
Th. Josephin untuk mendapatkan buku Kisah Kerajaan Tradisional Kangae Aradae-Nian Ratu Tawa Tana di wilayah Jakarta, silahkan menghubungi Bpk. Yosef Blasius Bapa (Slipi). Demikian informasi dari Bpk. Longginus Diego. thx udah mampir ke blog sederhana kami..epan gawan eee..
BalasHapusDear Sir; Thank you.Sorry,but just nornal areas ruled by a traditional ruler they like all to name kerajaan2 nowadays.Do you know the name of the present dynastychief of KangaE?I also look to contact the dynasty of Nita.Can you bring me into contact with someone;please?Thank you.Please;can you react at my e-mail pusaka.tick@tiscali.nl ?Thank you. Or facebook Donald Tick. Salam hormat: DP Tick
BalasHapusSaya adalah orang anak yang masih sekolah, sebagai penerus bangsa, saya bingung dengan sejarah ( pelajaran Mulok ).:
BalasHapus1 Kalau melihat sejarah kerajaan KangaE seperti apa yang ditulis bapak Diogo dengan jelas tertera wilayah kerajaan KangaE, sementara wilayah kerajaan Sikka, tidak ada rincian batas wilayah kerajaan sikka.
2 Apakah kerajaan Sikka adalah kerajaan yang wilayah kekuasaannya seluruh kabupaten sikka atau hanya ada di natar sikka.?
3. Untuk bapak Thomas, Hikayat para leluhur / latun lawang bisa dijadikan bahan referensi sejarah karena latun lawang adalah kisah turun temurun.
Bapak longginus Diogo yang terkasih,
BalasHapussenang rasanya membaca tulisan-tulisan terutama berkaitan dengan hakekat dan eksistensi sejarah Kerajaan Tradisional tawa tanah KANG`Ae. Saya adalah salah seorang dari garis keturunan kerajaan Kangae dari pihak perempuan (INA LUDJU (X) AMA KLEOR). Memang tak dapat dipungkiri lagi kuatnya feodalisme kolonial Belanda telah merusak Kerajaan Kang`ae sebagai sebuah komunitas masyarakat adat yang tumbuh dan berkembang di bawah kaki gunung ILIN GORAN (reta nitun kangae, meken detun wolo larun). Perlu diakui pula beberapa tulisan dari yang mengaku dirinya sebagai budayawan sikka cenderung tidak konsisten mengungkapan yang sebenarnya tentang Kerajaan Kanngae. Entalah ada apa dibalik itu semua. Sungguh sayang,Moan Ratu KEU justru kehilangan nama dalam pengetahuan sejarah kerajaan hal mana sesungguhnya memiliki arti penting karena kolonial Belanda bercokol di nian maumere justru pada zaman Ratu Keu berkuasa. Terima kasih (Elvis Leti Arianto von Ili)
Bapak longginus Diogo yang terkasih,saya sangat berterima kasih untuk artikel anda tentang sejarah Kerajaan Kangae.saya dapat mengetahui & menggali informasi tentang Kerajaan ini.Ayah saya berasal dari daerah Kangae,walaupun saya sendiri belum berkesempatan untuk mengunjungi tempat asal Ayah Saya.yang ingin saya tanyakan kepada Bapak,apakah ada nama nama dari keturunan Raja Raja Kangae,Sampai Saat ini? Terima Kasih.
BalasHapus