BELIS PEMICU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Maumere, Dewasa ini kekerasan terhadap perempuan semakin marak dan meluas. Banyak kalangan mencemaskan keadaan ini dan mempertanyakan apa sebenarnya yang menjadi faktor pemicu timbulnya berbagai kekerasan dalam rumah tangga khususnya di kabupaten Sikka. Salah satu faktor penyebabnya adalah budaya belis.
Demikian Koordinator Divisi Perempuan TruK-F Sr. Eustochia, SSps ketika membuka seminar Sehari bertemakan Budaya Belis dan Perempuan di Aula Muspas LK3I Jalan Soekarno-Hatta no.7 Maumere Flores NTT Rabu, (15/09/2010)

[caption id="attachment_1027" align="alignright" width="143"] Suster Eustacia, SSps, Koordinator Divisi Perempuan TruK-F[/caption]

Lebih lanjut menurut Sr. Eustochia atau akrab disapa Mama Esto, faktor kekerasan yang dilakukan oleh kaum laki-laki ini terjadi karena kesalahpahaman dan pandangan mengenai kedudukan perempuan dalam masyarakat. Usai pembukaan oleh Koordinator Divisi Perempuan TRUK-F Sr. Eustochia, SSpS, rangkaian acara selanjutnya adalah kegiatan seminar sehari menampilkan dua pemateri yakni Yosef Benyamin, SH pengamat masalah sosial budaya dan teolog STFK Ledalero Dr. Georg Kirchberger SVD.
Dosen Teologi STFK Ledalero Pater Dr. Georg Kirchberger, SVD menyajikan materi berjudul Perempuan dalam Perspektif Teologi Kristen menjelaskan ada beberapa hal yang perlu kita sadari terlebih dahulu, bila kita ingin mencari dan menilai fenomena diskriminasi perempuan dalam kerangka Gereja Katolik dan Agama Kristen pada umumnya. Menurut missionaries Serika Sabda Allah (SVD) ini, hal pertama yang harus kita sadari adalah adanya suatu pengaruh timbal balik antara budaya dan agama, adanya sifat dan pandangan patriarkal dalam budaya akan mempengaruhi dan turut menentukan interprestasi iman dan gambaran tentang Allah dalam budaya itu. Sebaliknya, kata Pastor Kirchberger, aspek patriarkal dalam agama dan warisan iman yang berwarna patriarkal akan memperkuat sifat dan pandangan patriarkal dalam budaya dan dalam kehidupan sosial.
Lebih lanjut Pastor Kirchberger mengatakan karena bias gender dalam wahyu dan dalam tradisi iman, maka dewasa ini dalam rangka emansipasi perempuan secara kultural dan politis-sosial berkembang juga suatu teologifeminis yang mau secara sadar merefleksikan iman dan tradisi ajaran Kristen dalam terang pengalaman khas perempuan dan seturut perspektif perempuan. Dari teologi feminis itu bisa kita belajar dan bisa disadarkan, bagaimana teologi dan ajaran iman kita diwarnai oleh prespektif pria dan cenderung menyingkirkan kepentingan perempuan serta mendiskriminasi perempuan, kata Kirchberger. Seminar sehari ini dimoderatori oleh Pater Dr. Otto Gusti Madung SVD
Selain Dr. Georg Kirchberger, SVD tampil juga pembicara lain yakni pengamat Sosial Budaya Yoseph Benyamin, SH. Yoseph Benyamin SH. Dalam materinya bertajuk Perempuan dalam Perspektif Hukum, Benya . mengatakan di Indonesia, sekalipun banyak peraturan perundang – undangan telah di rubah/ diratifikasi dan disesuaikan dengan nuansa penegakan hak perempuan, ternyata masih terdapat peraturan perundang-undangan yang belum memberikan perlindungan terhadap perempuan secara optimal. Bertitik tolak dari pengalaman yang mungkin semua kita pernah alami, atau pengalaman kita sendiri yang ditemui dalam masyarakat, harus secara jujur kita akui bahwa hukum kadang tidak responsif dan tidak sensitif terhadap kepentingan perempuan. Pengaturan hukum kadang bias terhadap kepentigan perempuan, kata Benyamin.
Menurut Benyamin, sikap masyarakat terhadap Budaya Hukum khususnya Hukum adaptasi yang berkaitan dengan pembelisan sangat dipengaruhi oleh budaya Partiarki, dimana yang berperan menentukan besar kecilnya nilai / harga belis terhadap seorang anak perempuan adalah laki-laki yakni Paman atau Omnya. Perempuna berada pada posisi diam dan menerima apa saja keputusan yang diambil terhadap dirinya. Usai seminar dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab.
Hadir pada kesempatam seminar ini, Kepala Badan Pemberdayaan Permpuan dan KB, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Camat Kangae, G. Manyela Rajalewa, S.Sos. Msi, Lembaga Sosial Masyarakat ( LSM ), tokoh perempuan dan undangan lainnya. (Lorenzo)

 

4 komentar:

  1. Salam sejahtera,setelah saya membaca seminar yang membahas tentang belis dan kekerasan.sungguh saya sangat prihatin dengan kondisi seperti itu.ini saran dari saya kepada masyarakat maumere pada umunya,dan tokoh-tokoh masyarakat pada khususnya,dan tua-tua adat,bahwa belis tidak mungkin membuat kitabisa hidup sejahtera,tp akan membawa mala petaka bagi kita dan anak cucu.KDRT merupakan kebiasaan buruk yang sering kita lakukan namun tanpa sedikitpun kits sadari.perumpean adalah titipan Tuhan buat kaum adam yang harus kita lindungi,bukan untuk di kuasai.semoga pasan singkat saya ini bisa bermanfaat,mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.

    BalasHapus
  2. salam sejahtera, sepertinya ada yang keliru dalam cara memandang BELIS, kalau BELIS hanya dianggap untuk membeli wanita itu jelas sekali salah besar. Pandangan seperti itu yang menyebabkan wanita sepertinya dilecehkan sehingga dampaknya terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Padahal BELIS itu juga menunjukan status sosial seorang wanita dalam masyarakat, juga dengan adanya BELIS lebih mempererat rasa kekeluargaan (menjalin tali silahtuhrahmi) pada pihak keluarga pria, ketika mereka harus saling bahu membahu/gotong royong untuk menanggung BELIS. Jadi kita tidak boleh hanya melihat dari satu sisi saja tetapi harus menyeluruh, ubahlah cara pandang bahwa BELIS itu membeli wanita, masih ada hal positif yang dapat kita ambil disana.

    BalasHapus
  3. Menurut saya, belis yang paling bernilai dan tak akan jadi masalah adalah SECUIL CINTA, SEBERKAS KASIH, SEUTAS SAYANG. Adakah cinta yang menyakitkan? Adakah kasih yang mendatangkan derita? Adakah sayang yang membuat kita Hancur???? malah yang ada hanyalah kemunafikan kita, keegoisan kita, keserakahan kita. Jadi Belis yang paling cocok untuk kita semua adalah SECUIL CINTA, SEBERKAS KASIH, SEUTAS SAYANG. Tidak butuh apa-apa dan dijamin halal. Mari kita mulai mencobanya dari diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, dan selamat berbahagia yeah....!!

    BalasHapus
  4. oh ya.... satu hal yang hampir saja saya lupakan....!
    Jangan lupa SECUIL CINTA, SEBERKAS KASIH, DAN SEBERKAS SAYANG harus dibarengi dengan perhatian ekstra dan rasa memiliki sebagai insan bernurani ciptaan Tuhan. Sebenarnya yang membuat kekerasan sering terjadi itu karena sedikit kesalahan teknis yang berasal dari pikiran, perkataan dan perbuatan yang menentang hati nurani atau malah sebaliknya, kekerasan terhadap wanita terjadi sebagai ungkapan cinta, kasih dan sayang. Tapi jangan halalkan segala cara seperti ungkapan tadi untuk menutupi kesalahan yang dilakukan oleh diri sendiri.
    Sebenarnya kekerasan terhadap perempuan juga terjadi karena ketidakpuasan terhadap faktor BIOLOGIS, EKONOMI, dan hilangnya sedikit kesadaran atau akal sehat untuk berpikir positif.
    SARAN SAYA:
    1. Untuk Kaum Wanita
    Hai maklukh Tuhan paling sempurna.... Engkau sebenarnya memiliki banyak kelebihan dan sedikit kekurangan. manfaatkan kelebihanmu untuk menutupi kekurangan tersebut. Salah satunya adalah KELEMBUTAN. Jadikan sifat kelembutanmu itu untuk mencairkan yang suasana yang membeku, memadamkan situasi rumah tangga yang kian membara, meluluhlantahkan yang keras seperti baja hingga jadi lemut seperti sutra. Jaga juga dirimu dengan baik sebelum memasuki atau membentuk rumag tangga baru. Bukankah yang paling menggetarkan dan membuat sang pria terkesan seumur hidupnya adalah hal baru yang ia dapatkan waktu malam baru/pertama???? (Maaf, ini berhubungan dengan faktor BIOLOGIS tadi).
    Selanjutnya, seorang wanita juga adalah bendahara yang mengatur menejemen rumah tangga. seringlah berhemat, pergunakan rejeki sesuai dengan kebutuhan dan jangan sampai berlebihan. bahtera rumahtangga manapun akan terus berjalan kalau menejemen rumahtangganya benar dalam berbagai pengaturan lain-lain (EKONOMI).
    Yang terakhir adalah memberikan perhatian ekstra. Percayalah....Pria juga sebenarnya sangat membutuhkan perhatian sekecil apapun apalagi perhatian ekstra. wah.... jangankan pukulan, tamparan dan tendangan, cubitan dan makian pun tidak akan kau tahu rasanya seumur hidupmu di bumi ini.
    Untuk Kaum Pria.
    Ingat!!!! wanita adalah tulangrusukmu yang terpisah. Mari kita satukan agar kehidupan bisa berjalan dengan sempurna. Jangan memandang wanita dari sisi BIOLOGIS saja, tapi pandanglah dia dari segala penjuru.
    Wanita butuh perlindungan bukan pukulan, tamparan apalagi tendangan. wanita juga sangat membutuhkan perhatian. Kalau berhubungan dengan faktor ekonomi, saya sarankan agar bijak-bijaklah dalam mencari dan mengumpulkan materi, sebab tidak ada wanita yang mau selama hidupnya hanya mengenal sayur kangkung dan toge. Selanjutnya jangan pernah sekalipun kita memberikan tamparan sebagai hadiah akan kelalaian wanita. kalau masih bisa berbisik, mengapa harus berteriak. dan kalau bisa membelai, mengapa harus menampar, apalagi menendang. Ingat.... Wanita bukan Bola Sepak, Volly, dan Kasti. Kalau ia salah, bimbinglah ia ke jalan yang benar. kalau ia keliru, luruskan pikirannya. Setelah itu, maafkan dia lalu lupakan salah atau kelirunya tersebut.
    Untuk Kaum Pria dan Wanita:
    Mari jadikan keluarga kita sebagai contoh dan teladan untuk semua keluarga di dunia ini. Semoga yang ada dipikiran kita hanyalah perasaan cinta, kasih dan sayang. Bukan pukulan, materi, makian dan lainnya.
    BUKANKAH HAKEKAT CINTA SEJATI ITU BUKAN SALING PANDANG DAN OBRAL KATA-KATA BELAKA MELAINKAN MEMBERI DAN MENERIMA DENGAN TULUS IKHLAS???
    Selamat menjadi keluarga terbahagia lahir dan batin jasmani dan rohani. Jiwa dan raga.
    Kini dan nanti tentunya!!!

    BalasHapus