Memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2010 tepat berusia 131 tahun, ibu-ibu (baca:perempuan) seluruh Indonesia memperingatinya dengan berbagai kegiatan. Kartini, atau lebih sering kita sebut Ibu Kartini lahir seratus tiga puluh satu tahun yang lalu di Jepara (Pulau Jawa) merupakan seorang anak perempuan bangsawan Jawa. Beliau merupakan pelopor gerakan perempuan yang mendobrak monopoli pria atas hak menikmati pendidikan di jaman itu. Hasil perjuangan Kartini akhirnya dapat dinikmati oleh perempuan Indonesia saat ini dimana dalam setiap sendi kehidupan perempuan berada sederajat dengan kaum pria.
Emansipasi wanita, istilah yang muncul saat ini untuk mengambarkan ke sedejaran antara pria dan wanita sudah menjadi hal lumrah dalam kehidupan kita. Wanita sekarang sudah bisa menjadi apa saja yang diinginkannya, namun di satu sisi perempuan diharapkan untuk tetap menjaga kodratnya sebagai seorang ibu, melahirkan dan membesarkan anak.
Peringatan hari Kartini yang diperingati oleh para perempuan ini juga diperingati dikabupaten sikka, walau terlambat namun tidak menyurutkan semangat ibu-ibu untuk memeriahkan dengan mengelar Pameran Hasil Kerajinan Daerah. Kegiatan pameran hasil kerajinan ibu-ibu yang merupakan kelompok kegiatan dari PKK kecamatan se Kabupaten Sikka menampilkan berbagai produk seperti tenun ikat tradisional (utang/ kain sarung) dari olahan bahan alam asli, tenun ikat dengan pewarna kimia, produk olahan makanan lokal (Lawar daun ubi, kripik daun bayam, sate jantung pisang dsb), hasil kerajinan tangan untuk souvenir, asesoris pakaian dari tenun ikat (tas, dompet dsb), tanam hias (aglonema, Puring lokal, Bonsai Kelapa, dsb) serta banyak lagi.
[caption id="attachment_720" align="alignleft" width="300"]
Menurut Ketua Team Pengerak PKK Kabupaten Sikka selaku ketua panitia kegiatan, Ibu Firmina Sedo Mitang, kegiatan pameran ini bertujuan untuk memperkenalkan hasil kerajinan dan pangan lokal dari ibu-ibu PKK yang ada di wilayah kabupaten Sikka. Tujuan lain adalah memotivasi para perempuan Sikka dalam meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih baik.
Secara khusus tujuan yang ingin dicapai seperti dalam sambutan tertulis yang di terima maumere OnLine, Firmina Sedo mengatakan kegiatan ini untuk memasyarakatkan tenun ikat, membiasakan keluarga-keluarga di kab. Sikka untuk mengkonsumsi olahan pangan lokal, memotivasi, meningkatkan keterampilan dan menumbuhkan rasa cinta kaum ibu terhadap tenun ikat, serta mempromosikan hasil karya tenun ikat dan kerajinan tangan para ibu. Selain meningkatkan rasa cinta dan peduli terhadap perjuangan pahlawan emansipasi wanita..Ibu Kita kartini...
Kegiatan ini ternyata mendapat sambutan dan apresiasi yang tinggi dari Pejabat, tokoh masyarakat serta wisatawan mancanegara. Sayangnya kegiatan yang bernilai ini hanya di langsungkan sehari (Jumad, 30 April 2010) dengan mengambil lokasi pameran di halaman kantor PKK kab. Sikka dimulai sejak pukul 09.00 hingga 15.00 Wita. Produk yang di pamerkan sebenarnya menarik dan mempunyai nilai jual yang lumayan seperti halnya harga sarung tenun asli (dengan pewarna alami) dibandrol hingga Rp. 2.500.000/ lembar. Belum lagi beraneka ragam makanan lokal yang diolah secara modern seperti tart singkong, dll.
Penulis yang sempat menikmati kuliner dari desa Hewokloang yaitu nasi merah campur kacang ijo di tambah lauk lawar daun singkong dan sate jantung pisang plus krupuk daun Bayam yang disajikan dengan piring anyaman daun lontar tidak ketinggalan se cawan(dari batok kelapa) moke..paket menu ini di tawar dengan harga Rp. 5.000/ porsi..murah!!! Dan sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang satu pot bakalan bonsai Kelapa Bali (Rp. 100.000,-) agak mahal sih..tapi kalo hobi apa mau di kata??
Yang menjadi masalah utama adalah kegiatan ini seperti tidak menarik bagi masyarakat karena tidak mengetahui acara ini. Acara yang hanya sehari tanpa sebuah publikasi jelas tidak mempunyai dampak yang kuat jika kita mengacu pada tujuan kegiatan ini di selenggarakan. Bagaimana masyarakat Sikka secara luas mengetahui pengolahan makanan tradisional yang baik jika tidak mencoba atau melihat langsung. Kehadiran media publikasi (wartawan) saat acara berlangsung tidak mempunyai efek langsung bagi khalayak(masyarakat). Karena berita yang akan dihasilkan adalah berita tentang kegiatan tersebut dan siapa-siapa yang hadir, kalo hanya pejabat, undangan atau PNS tentu produk yang di hasilkan hanya untuk mereka. Sementara berita/ informasi dari media hanya informasi peristiwa yang sudah lewat bagi masyarakat kab. Sikka (Perempuan Sikka) tanpa efek langsung. Jelas berita bukan media publikasi untuk promosi hasil karya, tapi informasi tetang kegiatan pameran yang sudah selesai, apa manfaatnya untuk masyarakat luas??
Sebuah penyelenggaraan kegiatan atau even harus di manage secara baik dan profesional, bukan asal ada, apalagi ini merupakan bagian dari kegiatan pemerintahan. Mungkin sudah saatnya kegiatan harus di rencanakan dengan baik dan jauh hari sebelumnya sudah di publikasikan ke masyarakat. Dengan demikian masyarakat tahu akan adanya kegiatan tersebut dan dapat hadir maka dengan sendiri tujuan kegiatan ini dapat tercapai dengan baik. Selamat Hari Kartini Buat Semua Perempuan di Indonesia, salam hangat dari maumere...(AJ)
Proficiat buat langkah2 strategis PKK kab. Sikka dlm pemberdayaan perempuan berbasis potensi2 lokal...salah satu aset wisata kuliner yag perlu terus dikembangkan secara berkelanjutan...selamat untuk mama-mama semuanya...SUKSES!!!
BalasHapus