[caption id="attachment_576" align="alignleft" width="298"]
Suatu hari kebetulan di kota Maumere telah dibuka TB. Gramedia (tepatnya 16 Maret 2010) menarik rasa penasaran saya untuk mampir dan mencari bacaan..entah buku atau apapun yang bisa dibaca..sambil melihat-lihat pajangan toko buku ini mata saya tertuju pada rak majalah dan tabloid. Kebetulan sekali yang paling menonjol adalah tabloid olahraga sepak bola (soccer). Tanpa basi-basi langsung saya ambil dan membayar di kasir...lalu pulang. Dirumah setelah membolak-balik tabloid tersebut mata saya langsung tertuju pada sebuah artikel pada halaman Liga Italy (Seri A). sebuah tulisan profil dari seorang pemain muda yang namanya sangat femiliar dengan nama Indonesia..Radja Nainggolan. Tanpa malu-malu saya langsung mengutip Lead pada tulisan tersebut: Pemain berdarah Indonesia ini akhirnya bisa tampil di pentas paling elite sepak bola Italia. Dia punya pesan khusus buat pemain muda di Indonesia.
Setelah membaca seluruh tulisan di tabloid ini saya langsung browsing di google dengan key word Radja Nainggolan. Hasilnya mulai dari Kompas Bola hingga blog terungkap sebuah ungkapan hati rakyat indonesia akan sosok idola di dunia olahraga ini(sepak bola). Sebuah gambaran kerinduan masyarakat Indonesia atas prestasi sepak bola pada level dunia yang hingga kini belum tecapai bahkan masih menjadi mimpi.
Seorang Radja Nainggolan, yang berayah batak bernama Marianus Nainggolan (kayak nama teman saya di Kota Uneng) dan ibu Lizi Bogaerd, seorang Belgia. Lahir di Antwerpen, Belgia, 4 Mei 1988 memiliki adik perempuan Riana Nainggolan yang saat ini juga memperkuat Tim Putri Belgia di cabang bola kaki. Radja juga sudah berkeluarga dan memiliki seorang putri. Saat ini Radja memperkuat tim Seri A Piacenza dengan status pinjaman. Karir sepak bolanya di awali masa kecilnya, di perkenalkan oleh ayahnya dengan menonton pertandingan sepak bola di Antwerp dan bermain sepak bola di lapangan dekat rumah. Pada usia 6 tahun Radja dan Riana harus berpisah dari ayahnya si Marianus karena bercerai dari ibu mereka Lizi. Marianus pulang kampung dan menjadi pengusaha di Bali, Radja dan Riana tetap di Belgia. Berkat dorongan ibunya Radja tetap bermain bola dan pada umur 11 tahun dia bergabung dengan klub lokal Belgia, Germinal Beescot. Pada tahun 2005 dia pindah ke Piacenza Italia untuk bermain di Seri B. Pada Januari 2010 Radja akhirnya merasakan panasnya persaingan di level puncak Liga Italia setelah dipinjam Caliari untuk bermain di Seri A(sumber: Tabloid Soccer).
Kehadiran Radja di ajang Seri A ini menjadi sebuah berita besar bagi pencinta sepak bola nasional, media Indonesia pun tidak ketinggalan memburu informasi tentang sang Radja ini. Walaupun kiprahnya di Seri A baru sebentar namun berdasarkan prestasi Radja saat bermain di level Seri B mendapat perhatian dari Caliari dengan status pemain pinjaman dan opsi permanen jika dia bermain bagus di musim ini.
Dan apa yang diharapkan media dan masyarakat pencinta bola di Indonesia? Dari semua tulisan tentang Radja hanya satu pertanyaan yang menonjol apakah Radja bersedia bermain untuk Bangsa dan negara ayahnya..Indonesia tercinta ini? Kenapa media dan juga kita masyarakat indonesia mendambakan sosok Radja untuk pulang ke Indonesia dan memperkuat timnas kita? Apakah pemain - pemain lokal kita tidak mampu bersaing hingga level internasional?..yang bisa menjawab hanya PSSI...
Menjawab pertanyaan di atas apakah Radja bersedia bermain untuk timnas? Tak perlu dijawab karena saat ini Radja telah memperkuat timnas Belgia. Yang lebih parah lagi Radja sama sekali tidak mengenal negara bapaknya..apalagi perkembangan sepak bola di tanah air ini. Bagaimana dengan PSSI? Ingin mengajak Radja bergabung? Sebaiknya ide itu dibuang jauh-jauh..apa memang tidak ada anak negeri ini seperti Radja? Dari duaratus juta lebih manusia di Indonesia?
Radja sendiri untuk menutupi kekecewaan PSSI yang mengajak bergabung (ini kutipan dari Tabloid Soccer lho:..Meskipun secara tidak langsung menolak, Radja malah menyarankan PSSI untuk memanggil pemain -pemain keturunan Indonesia di Eradevisie Balanda yang tidak memperkuat Timnas Belanda.” seperti Irfan Bachdim atau beberapa pemain lainnya.”
Memang selain Radja ada beberapa pemain bola keturunan Indonesia yang bermain di klub-klub Eropa. Seperti Estefan Pattinasarany, Donovan Partosoebroto atau Marciano Kastoredjo..(liat namanya saja sudah ketahuan..orkit:orang kita) Tapi apakah kita bisa memanggil mereka pulang dan memperkuat timnas? Jika melihat kondisi sepak bola di negara ini kurang menjanjikan untuk masa depan jika dibandingkan bermain pada klub-klub negara eropa walau hanya di tinggkat dua seperti Seri B Italia atau Devisi I & II Liga Inggris. Mungkin solusi ini bisa diambil jika kita tidak bisa mendatang para keturunan ini kembali ke tanah air tercinta ini..kenapa PSSI tidak menghadirkan saja sistem kompetisi yang sama mutunya dengan di Eropa dari level terendah (anak-anak/Kompetisi Lokal) hingga tertinggi (Liga Indonesia). Kenapa kompetisi harus dari tingkat anak-anak/ kompetisi lokal dengan klub-klub lokal? Karena disitulah kita bisa menemukakan Radja-Radja kecil yang siap di asah menuju tingkat kompetisi yang lebih tinggi. Bagaimana kita bisa menghasilkan pemain bola yang handal jika kompetisi di lokal hanya sekali dalam 360 hari?bagaimana anak-anak kita terasah skill sepak bolanya jika kompetisi antar sekolah baru bisa di gelar setelah DPRD ketok palu, anggaran di setujui? Itu pun syukur kalo di anggarkan oleh pemerintah daerah.
Selain itu banyak terjadi pembatalan mengirim tim sepak bola sebuah daerah/ kabupaten untuk berlaga di multi even karena keterbatasan anggaran. Saya ambil contoh pada Even Pordafta Sikka 2009 lalu dari 9 kontingen hanya lima tim sepak bola / lima kabupaten yang ikut pada cabang ini. Sementara kabupaten lain membatalkan tim sepak bolanya karena alasan dana. Singkatnya : lebih baik kirim 1 orang untuk 1 medali dari pada kirim 11 orang untuk 1 medali. Masuk akal dan klise..uang!! ..semoga!!!Topan DC
Sumber: Semua yang ada di google... dengan Key Word: Radja Nainggolan.
Kalau kita berbicara fakta ,memang dengan pemain lokal saja kita selalu keok dalam perebutan tiket putaran final piala dunia dengan China,Korea,Jepang,Iran dan negara Jazirah Arab ,sampai kiamatpun mungkin kita takkan bisa lolos dari hadangan mereka .Jelas kita sekarang perlu terobosan dengan pemain naturalisasi berkualitas yang bisa bersaing di level piala dunia, asalkan program ini jangan jadi obyekan pengurus PSSI yang sekarang.
BalasHapus